StatCount

03 December 2012

The Ultimate Seven Base Camp of The Seven Summits of The World - Carstensz Pyramid, Papua



Majalah Mahitala Edisi April 2012

Kalo mencoba melakukan kegiatan menulis dan mini riset, ini salah satu hasil-hasil yang pernah saya buat. Tulisan di bawah ini merupakan versi yang tidak diedit oleh editor. Dan versi editnya pernah tampil di Mahajah Mahitala April 2012. Saya akan mencoba menampilkan cerita ini dalam beberapa posting. Semoga terhibur dan menambah wawasan. 

Salam Seven Base Camp,
-CTRKTH-



The Ultimate Seven Base Camp of The Seven Summits of The World
Pesona Kota-Kota Persinggahan Terakhir dan Base Camp dari The Seven Summits of The World


Pendakian menuju puncak-puncak gunung tertinggi di dunia dengan gemilang dilakukan oleh Mahitala Unpar. Lewat program yang bertajuk Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar 2009–2011 (ISSEMU 2009–2011), Mahitala Unpar yang diwakili oleh Sofyan Arief Fesa (M 2003556 AMSP), Frans (M 2006581 ABRI), Broery Andrew Sihombing (M 2008604 ANA), dan Janatan Ginting (M 2008612 ANA) dengan sukses menjadikan Mahitala Unpar sebagai organisasi pertama yang berhasil membawa nama Indonesia dalam sebuah ajang “Everlasting Adventurous In The World : The Seven Summits”. Tidak hanya sampai di sana, yang paling penting adalah Indonesia kini telah memiliki The Seven Summiteers yang pertama dan kali ini tidak tanggung-tanggung, 4 pendaki langsung disetorkan dan layak menduduki chart nomor 215 sampai dengan 218 dalam daftar panjang sejarah orang-orang yang telah berhasil mencapai The Seven Summits.

Ki-ka : Hiro (konsultan ISSEMU), Broery, Janatan, Frans dan Ian
(Foto : ISSEMU)
Seperti kita ketahui bersama, titik-titik tertinggi yang terselubung salju itu menyebar di seluruh pelosok dunia mewakili masing-masing lempeng benua. Carstensz Pyramid (4.884 mdpl)  di Papua, Austronesia;  Kilimanjaro (5.895 mdpl) di Tanzania, Afrika; Elbrus (5.642 mdpl) di Rusia, Eropa; Vinson Massif (4.889 mdpl) di Antartika; Aconcagua (6.962 mdpl) di Argentina, Amerika Selatan; Everest (8.848 mdpl) di Nepal, Asia; dan Denali (6.194 mdpl) di Alaska, Amerika Utara.

Pada tulisan ini, kami tidak akan membahas bagaimana upaya empat bocah-bocah ingusan ini dengan semangat baja ala push to the limitnya Mahitala Unpar menggenapi seluruh tujuh titik puncak tertinggi yang konon hanya memakan waktu 29 bulan saja. Tulisan ini akan memperkenalkan lebih dekat seperti apa basecamp dan kota tempat persinggahan terakhir di masing-masing gunung tersebut, terutama yang digunakan selama pendakian ISSEMU 2009 -2011. Secara harafiah basecamp dapat diartikan sebagai kamp utama. Mengutip dari www.dictionary.com maka basecamp memiliki arti sebagai berikut : a main encampment providing supplies, shelter, and communications for persons engaged in wide-ranging activities, as exploring, reconnaissance, hunting, or mountain climbing. Bila mengacu pada operasi ISSEMU 2009-2011, kutipan tersebut bisa berarti: Sebuah lokasi perkemahan induk tempat strategi pendakian menuju puncak akan disusun, untuk menimbun seluruh logistik dan peralatan pendakian, dan juga merupakan pusat jalur komunikasi untuk mengirimkan ataupun menerima informasi dari berbagai pihak.
   
Menguak Kota dan Danau Di Balik Awan

Tembagapura, kota yang dikepung awan dan pegunungan
(Foto : Tim ISSEMU)
Seperti yang kita ketahui, puncak tertinggi di Indonesia yang terselubung salju abadi ini terletak di jantung Papua. Sebuah pulau misterius yang menjanjikan banyak sekali petualangan yang tidak akan pernah tergantikan. Tembagapura adalah kota terakhir yang harus dilewati bila ingin mendaki Carstensz Pyramid dari arah selatan. Kota kecil ini didirikan oleh PT Freeport Indonesia sebagai basis untuk menuju kawasan pertambangan yang dimilikinya. Berjarak 50 km atau sekitar 1,5 jam dari Timika, Tembagapura adalah sebuah kawasan yang hanya dapat dimasuki bila kita mengantongi ijin resmi dari PT Freeport Indonesia. Tembagapura yang memiliki ketinggian 3.000 mdpl ini hampir setiap hari diselimuti oleh kabut dengan suhu rata-rata sekitar 10-20 derajat Celsius. Rasa asing muncul ketika menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di kota ini. Bagaimana mungkin ada sebuah kota dengan fasilitas nomor satu dalam kepungan hutan di tengah pegunungan? Walaupun demikian, kota ini amat bersih dan tertib. Transportasi di kota ini juga dilengkapi oleh sistem shuttle bus yang bebas biaya. Laju kecepatan kendaraan dibatasi maksimal hanya 20 km/jam untuk menghindari kecelakaan. Pejalan kaki adalah prioritas pertama di kota ini. Semua kendaraan akan mengalah apabila pejalan kaki menyebrang jalan. Mereka akan otomatis berhenti bahkan tanpa diperintahkan oleh lampu lalulintas. Kota ini memiliki semua fasilitas nomor satu dibandingan dengan Timika. Sebut saja rumah sakit dan sekolah bertaraf internasional, kantin-kantin makanan yang memiliki berbagai macam jenis menu, supermarket yang kelengkapannya sanggat diunggulkan, perpustakaan dan lain-lain. Semua ini rasanya wajar mengingat PT. Frepoort Indonesia memiliki hak untuk mengeksploitasi isi perut kawasan tersebut yang merupakan cadangan nomor satu dunia untuk material emas dan nomer tiga untuk material tembaga.

Lembah Danau-Danau, tempat kondusif untuk mendirikan kemah
(Foto : Tim ISSEMU)
Basecamp saat pendakian Carstensz Pyramid kerap disebut Lembah Danau-Danau. Terletak di dekat empat buah danau gletser, tempat ini menjadi pilihan para pendaki sebagai lokasi untuk mendirikan tenda besar, menimbun logistik dan pusat komunikasi. Lembah Danau-Danau terletak di ketinggian 4.200 mdpl dan suhu yang menyelimuti kawasan itu berkisar antara 6-10 derajat Celsius. Bila kita datang dari arah Tembagapura, maka basecamp ini dapat dicapai dengan menggunakan beberapa fasilitas yang dimiliki oleh Freeport. Mulanya kita dapat menggunakan kendaraan darat dan disambung dengan cable car untuk melewati jurang besar yang menganga hingga tiba di Bali Dump yang merupakan sebuah lapangan dengan hamparan kerikil dan pasir. Setibanya di Bali Dump perjalanan akan dilanjutkan dengan berjalan kaki ataupun dengan kendaraan milik Freeport bila disediakan. Pos selanjutnya yang akan kita singgahi adalah Zebra Wall, sebuah tebing dengan ketinggian kurang lebih 15 meter yang bercorak hitam putih selayaknya warna belang pada tubuh zebra. Dulu tempat ini sering dipergunakan oleh para pendaki sebagai tempat untuk beristirahat ataupun bermalam dan mendirikan tenda. Tetapi karena perubahan dan eksplorasi yang besar pada areal Freeport, lokasi ini tergenang air setinggi lutut dan lahannya sudah tidak memungkinkan lagi dipergunakan untuk beraktifitas seperti dulu. Lepas dari Zebra Wall, kita akan bertemu dengan Pintu Angin, sebuah celah atau lorong yang merupakan pintu masuk ke kawasan Carstensz Pyramid. Perjalanan dari Tembagapura hingga Lembah Danau-Danau menghabiskan waktu kurang lebih sembilan jam perjalanan. Selain Lembah Danau-Danau, lokasi lainnya yang bisa digunakan sebagai basecamp adalah Lembah Kuning. Lembah Kuning adalah akses terdekat untuk mencapai titik awal pendakian menuju puncak tertinggi di Indonesia ini. Perjalanan menuju Lembah Kuning dapat ditempuh selama satu sampai dua jam dari Lembah Danau-Danau.

Akses menuju basecamp Carstensz Pyramid ini tidak hanya melulu lewat Tembagapura saja. Lembah Danau-Danau juga dapat ditempuh lewat Ilaga dan Sugapa, melalui sebuah celah yang dikenal dengan New Zealand Pass. Untuk sebuah pendakian komersil menuju puncak Carstensz, pihak Freeport sudah menutup jalur Tembagapura. Dan ini menjadikan sebuah tantangan tersendiri untuk mencapai atap tertinggi benua Austronesia. Beberapa alternatif pun tersedia untuk mencapai puncak Carstensz. Selain lewat Ilaga dan Sugapa yang akan memakan waktu perjalanan hampir seminggu menuju Lembah Danau-Danau, kini tersedia jalur Tsinga yang akan membawa pendaki langsung menuju summits ridge (punggungan puncak) tanpa melewati Lembah Danau-Danau terlebih dahulu. Kalau enggan untuk menghabiskan waktu hingga tujuh hari lebih, kini juga tersedia jasa helikopter yang akan siap menerbangkan Anda dari Timika hingga Lembah Danau-Danau dalam hitungan jam dan tentunya harus ditebus dengan nilai rupiah yang pastinya akan lebih menguras tabungan anda.



No comments: