Kegilaanku pada kegiatan menulis dan mini riset sebenarnya diawali dari membuat blog ini. Kalau dulu mikirnya yang penting punya niat dulu untuk menulis. Menulis apa saja, pokonya harus menulis. Dari situ terus berkembang, mulai dari melirik-lirik blog atau tulisan orang lain. Dan beberapa hal yang paling menginspirasi kenapa saya selalu bergairah untuk menulis adalah www.blognyasihans.blogspot.com .Tapi karena Si Hans ini sudah tidak lagi hobi menulis, blognya tamat begitu saja. Padahal dari sisi cerita sangat menarik. Setiap topik-topik yang ia posting di dalam blognya sangat mengalir. Dan ada beberapa orang-orang lagi yang menginspirasi saya untuk mulai belajar menulis. Salah satunya adalah Anti ( http://www.kucle.blogspot.com/ ). Nah, dia ini tutor saya hingga saat ini. Seorang editor di sebuah majalah wildlife (yang katanya) nomer satu di Indonesia. Saya dan dia sering bertukar ide ataupun berdebat santai soal penulisan yang baik harus begini, begitu, begono dan sebagainya.
Kegilaan saya akan menulis semakin menggila takkala saya harus menjabat sebagai publikasi Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar. Di posisi ini saya mau tidak mau dipaksa untuk menulis. Bukan menulis sekenanya seperti apa yang saya lakukan pada postingan blog-blog saya di awal-awal. Saya dipaksa untuk menulis dengan tuntutan tingkat kreatifitas yang teramat tinggi. Dunia pendakian gunung dan kegiatannya sangat menarik dan mendebarkan untuk diikuti, dan saya harus menuangkannya dalam bentuk tulisan yang dilaporkan ke milis organisasi kami, milis-milis terkait lainnya dan forum-forum yang bertebaran di dunia maya untuk menggugah hati orang-orang untuk mendukung baik secara moral maupun materil.
Awal-awal mengerjakan tugas ini adalah neraka buat saya! Mungkin ini sebabnya sekarang ratusan helai rambut putih tumbuh permanen di batok kepala saya. Ketika ada info masuk dari para pendaki, saya harus terdiam selama dua sampai tiga jam mencerna apa isi berita tersebut dan merangkaikannya ke dalam beberapa kalimat yang enak untuk dibaca tanpa harus merubah fakta-fakta yang terjadi di lapangan. Kalau beritanya panjang, mungkin itu mudah. Bagaimana bila pesan dari para pendaki di Kilimanjaro berupa sms text yang dikirimkan dengan karakter terbatas dari sebuah handphone monoponik yang berasal dari Firlandia? Kira-kira pesannya berbunyi seperti ini : "Di C3.Kondisi aman,sehat tp cape.Angin kencang.Sdh dlm tenda-Ian" Ketika membaca sms ini, kepala saya langsung seperti ada batunya. Antara kesel tapi lucu. Sebagai catatan, 4 summiteers Mahitala ini (Ian, Frans, Breory dan Atan) adalah orang-orang yang sangat lurus. Ya, lurus dalam arti semestinya. Tidak suka berbasa-basi, to the point dan tidak suka membahas hal-hal yang tidak penting. Istilahnya mungkin kalau ditanya A mereka akan menjawab A. Tidak ada cerita mereka akan menjawab A++ ataupun A yang diberikan bumbu B sedikit. Tapi ini menjadi tantangan buat saya. Bagaimana membuat berita pendek itu menjadi berita beberapa alinea dan menarik untuk dibaca. Akhirnya yang saya lakukan adalah mencari info-info mengenai gunung yang mereka daki. Jadi sambil menulis mengenai info "Live From Africa Continental" saya juga menceritakan bentuk dan seluk beluk alam ataupun kota-kota yang mereka singgahi hanya bermodalkan Google.com.
Kegiatan menerima pesan dan mengembangkan cerita saya lakukan di beberapa pendakian mereka di awal-awal. Sampai saya berfikir, kok rasanya semua terlalu dikejar waktu ya? Akhirnya sebelum mereka mendaki (masih di Bandung) saya mulai melakukan mini riset mengenai semua yang akan mereka jadikan sasaran pendakian. Sejarah, rute, koordinat, objek menarik, ketinggian, peta, kota terakhir, gimana caranya dan ratusan info-info lainnya masuk ke dalam kepala saya. Di sana saya benar-benar memposisikan diri bahwa saya ikut bersama mereka mendaki. Caranya bagaimana? kembali saya browsing dan mendownload semua foto-foto mengenai tempat main mereka, melihat dari segala macam sisi, detil dan saya rekam benar-benar di dalam ingatan. Saya rasa ini cukup membantu saya untuk menjiwai perjalanan mereka walau saya tidak ada di sana.
Kegiatan menulis dan mini riset semakin menggila di beberapa gunung terakhir ketika saya mengambil alih pembuatan press release yang akan dibagikan kepada wartawan. Nah, dari sini saya belajar hal-hal baru lagi. Bahwa tata bahasa dan gaya penulisan harus diperhatikan baik-baik. Wawasan saya semakin bertambah dan semakin menggilai kegiatan ini. Kebetulan saya mempunyai posisi yang menguntungkan, di mana saya adalah orang pertama yang mendapatkan report pertama kali dari dari para pendaki itu, tidak peduli mereka ada di Antartika, Alaska atau bahkan Puncak Everest sekalipun. Mereka akan mengirimkan info kepada saya secara rutin dan berkala. Jadi di kantong saya selalu ada voice recorder untuk merekam suara mereka dan baru saya mengolahnya ke dalam bentuk tulisan. Pengalaman lucu sangat banyak mengenai aksi telp dan terima pesan ini. Satu hari saya sedang ada di Kota Jogja, karena ada hal penting, saya harus keluar dari penginapan untuk membeli sendal jepit di supermarket. Saya pikir itu sebentar, jadi voice recorder saya tinggalkan di kamar. Tapi emang dasar telalu seenaknya, saya lanjutkan dari supermarket ke restoran untuk makan. Dan ternyata sewaktu saya sedang makan, HP saya berbunyi. Pada layarnya tertulis dengan huruf kapital "ANTARTIKA!!!" "Aduh, mampus lah gue" pikir saya. Akhirnya saya angkat dan Ian langsung memulai cerita mengenai aksi-aksinya di Antartika tadi pagi. Tapi sedang asiknya dia bercerita, terpaksa saya potong, "Aih, punten, Ian. Poho mawa recorder, keur dahar!" (Sori,Ian. Lagi makan, ga bawa rekorder). Langsung Ian dengan sumpah-serapah cemprengnya mengalir ringan keluar dari speaker HP ke telinga saya," Eh, Siah maneh! Sok balik....15 menit, Kehed Siah!" (Arti yang ini cari sendiri ya.hehehehe). Satu cerita kejadian konyol juga terjadi ketika monyet-monyet ini mendaki Antartika. Karena kejadian di Jogja itu, kemana pun saya pergi, HP dan recorder selalu ada di samping saya. Tidak pernah lepas (kalau tidak salah ingat, rasanya ke wc pun saya bawa). Waktu itu pukul 10 pagi dan saya sedang mengendarai motor menuju ke kantor. Sambil menyetir santai sambil bersiul, tiba-tiba HP saya bergetar. Saya berhenti di pinggir jalan dan mengeluarkan HP. Huruf kapital besar "ANTARTIKA!!!" kembali muncul di layar HP. Langsung dengan tangkas saya keluarkan recorder dan menekan tombol speaker out pada HP saya sambil berkata "Sok, aing geus standby, sok laporkeun infonya" (Silahkan, saya sudah siap, silahkan dilaporkan infonya). Lalu????? Lalu Ian berteriak :" Lot, Mahitala udah sampe puncak Vinson Massif (Antartika), semua sehat dan akhirnya kita jadi yang pertama untuk Indonesia....babalabalabalababaxlckvjxlzcvlkjhvdkdfjs" Lalu???????? Lalu saya matikan HP serta recorder dan memasukannya kembali pada kantong celana dan melompat serta berteriak segila-gilanya di pinggir jalan. Saya lupa, tetapi harusnya orang-orang melihat dengan kaget. Saya tidak peduli mau dipikir apa, tapi yang jelas teman-teman saya adalah orang pertama yang menjejakkan kaki di titik tertinggi di Benua Antartika. Asik ga?!?!?!
Ketika pendakian mulai mendekati gunung-gunung terakhir, aksi mini riset dan menulis bertambah entar berkali-kali lipat. Pokoknya semuanya saya curahkan untuk itu. Dan ketika mereka sedang bersiap-siap di Bandung, saya juga bersiap-siap dengan mencari info sedetil mungkin dan ngobrol dengan mereka mengenai medan yang akan mereka lalui. Ketika mereka melaporkan keberhasilan mereka di Puncak Everest (live from the highst point of the world to Bandung) saya tidak bisa bergabung bersama rekan-rekan lain untuk peluk-pelukan, berteriak gila-gilaan serta ikutan menangis haru. Begitu menerima info tersebut, saya langsung duduk di depan laptop lalu membuat release dan mengirimkannya ke puluhan media cetak di Indonesia dan belasan milis serta forum yang eksis di dunia maya. Baru malamnya sebelum terlelap di dalam kamar di balik selimut, saya memikirkan apa yang terjadi tadi pagi sekitar pukul 05.00 - 11.00 tanggal 20 Mei 2011. Dan akhirnya air mata yang harusnya keluar bersama air mata bahagia teman-teman lain, keluar juga. Sambil tersenyum dan menggeleng-geleng saya cuman bisa bilang dalam hati "You're the best fucking mountainners in the world!"
Itulah kiranya pengalaman-pengalaman yang memicu saya menjadi senang menulis dan melakukan riset kecil-kecilan. Selain menulis saya juga mulai suka membaca. Meluangkan beberapa persen pendapatan bulanan untuk membeli tiga sampai lima buah buku setiap bulannya. Dan membaca buku ternyata membuat saya semakin kaya akan tata bahasa dan merangkai kata-kata. Saat ini urusan kerjaan semakin sibuk saja. Sampi rumah sudah terlalu lelah dan pengennya tidur. Jadi untuk sementara ini, waktu-waktu untuk menulis jadi berkurang drastis. Pengen rasanya punya waktu yang cukup luang untuk menulis dan riset lagi. Oh, damn...I lovee those things!
![]() |
| Ini kira-kira gambaran susana kamar saya yang akan berubah seketika bila aksi menulis dan mini riset sedang dilakukan. Very Fun! |

No comments:
Post a Comment