Gue berangkat ke Lawu memang bukan tanpa persiapan. Beberapa literatur dibaca, internet dibuka dan data-data lisan dari teman-teman yang pernah mendaki Lawu mengisi setiap sisi kosong di otak gue. Mulai dari mewarnai peta, belanja dan packing kami lakukan berdelapan (gue, abe, binsar, abah, jody, iqbal, chandra, argo).
Perjalanan dimulai dari sekertariat Mahitala di Ciumbuleuit. Setlah persiapan dirasa matang, kami bertolak ke stasiun Kiara Condong. Untuk kami yang memiliki kantong pas-pasan tapi maunya banyak, kereta api ekonomi kelas kambing menjadi alat transportasi yang sungguh mampuni. Mengeluarkan kocek yang rasanya tidak sampai Rp 40.000,- kami disuguhi sejuta suasana meriah yang kadang buat jengkel. Contoh saja mengenai pengamen. 1 grup pengamen dapat melakukan aksi serupa (ngamen tentunya) dengan kostum yang berbeda-beda minimal 2 kali. Yah, namanya juga usaha cari duit.
Akhirnya kami tiba di sebuah stasiun. Gue lupa apa nama stasiunnya dan di mana kotanya (penyakit gak pernah buat catatan perjalanan). Dari sana kami coba mendekati desa terakhir dengan beberapa kali ganti angkot. Angkot menuju Sarangan kalo gak salah. Sejak awal memang kami merencanakan untuk memulai perjalanan dari Cemoro Kandang (Jawa Tengah) dan turun di Cemoro Sewu (Jawa Timur. Gunung Lawu memang berada tepat di perbatasan Jawa Tengah dan Timur.
Hujan mengiringi langkah awal kami yang memulai start kira-kira lepas makan siang. Dan memutuskan untuk membuka tenda untuk bermalam di post 2 (Taman Sari Atas). Di sepanjang perjalanan banyak sekali kami jumpai bekas-bekas sesajen yang dibawa atau memang sengaja dipersiapkan bagi para pendaki yang bertujuan untuk tirakat atau berziarah. Ada 2 macam pendaki di gunung Lawu ini. Pertama adalah para pendaki biasa seperti kami dan kedua adalah para pendaki yang bertujuan untuk berziarah. Biasanya pada malam satu Suro jumlah pendaki yang bertujuan untuk berziarah akan membludak menjadi sangat banyak. Jadi tak heran sepanjang pendakian pun kami temui bekas-bekas sesajen ataupun bekas warung-warung dadakan.
Setibanya di Hargo dalam saya termenung. Memang benar apa yang saya dapatkan dari para pendaki Gunung Lawu sebelumnya. "Naik Gunung Lawu tuh yang penting uang !" Aneh, mana ada uang yang berlaku di gunung. Ya ! memang benar untuk bebrapa gungung di Jawa tetapi TIDAK untuk di Gunung Lawu ! Di Hargo dumilah terdapat banyak sekali komplek pertapaan, salah satunya yang paling kramat adalah makam kuno tempat mukswa Sang Prabu Brawijaya. Begitu melihat warung otak culas saya tergerak. "Pokoknya malam ini gue gak mau buka tenda dan ngeluarin trangia, kita tidur di warung dan minta simbok untuk masak !" Rasanya tidak ada penolakan yang berarti dari rekan-rekan seperjalanan...Malam memang begitu dingin disertai pula makanan yang terlampau pedas untuk mulut manja seperti gue.
Kami berusaha bangun sepagi mungkin untuk melakukan summit attack ke puncak Hargo Dumilah. Tanpa membawa beban bak batu menhir di puncak cukup mudah. Puncak Hargo Dumilah ditandai dengan sebuah triangulasi berupa tiang balok semen setinggi kurang lebih 2 meter. Tapi dari info yang saya dapatkan dari Anna (teman pencinta Alam Grapala FV I di SMA) balok semen tersebut sudah runtuh.Ritual foto-foto dilakukan dan akhirnya kami kembali menuju Hargo Dalem. Sempat terlintas keinginan untuk mengunjungi lokasi-lokasi menarik di Hargo Dalem seperti tempat-tempat ziarah dan Rumah Botol. Tetapi rasa malas membuat gue hanya bergolek-golek menikmati matahari pagi yang katanya bisa memperkuat tulang. Pada akhirnya menyesal juga saya tidak mengunjung Rumah Botol yang sengaja dibuat oleh seorang pemuda dari Jakarta karena iseng. Dia mengumpulkan banyak sekali puluhan, ratusan bahkan ribuan botol, kaleng bekas yang dibuang oleh pendaki. Teman saya Anna ini bebrapa waktu lalu sempat melakukan penelitian Rumah Botol ini untuk mata kuliah Ilmu Seni dan Estetika (kalo gak salah) di FSRD ITB. Akhirnya kesampaian juga liat Rumah Botol walau hanya lewat laporan hasil analisis si Anna (good job, sis!)

Foto 6 dan 7 : Mungkin ini salah satu alasan kenapa triangulasi di Puncak Hargo Dumilah bisa roboh ?!?!?! hahahahahahahahahahaha (kidding bro!)
Tak lama berleyeh-leyeh ria, kami memutuskan untuk turun dan menyempati mampir di Sendang Drajat yang konon airnya tidak pernah kering walau kiamat datang. Abe, teman kami berusaha untuk mencoba mandi dengan mengambil airnya. Dan kami juga mengunjung Sumur Jolotundo. Banyak sampah indomie, permen, botol air mineral dan bekas-bekas sesajen yang membuat sumur itu kurang indah untuk dipandang.
Akhirnya kami tiba di Cemoro Sewu, Jawa Timur. Packing ulang dengan membuang sampah dan barang-barang lain yang tidak kami butuhkan sambil bersih-bersih dan langusng bertolak kembali ke Bandung.
Gunung Lawu memang banyak menyimpan memori indah dalam ingatan gue. Entah kapan ada waktu untuk berkunjung ke sana.......
Perjalanan dimulai dari sekertariat Mahitala di Ciumbuleuit. Setlah persiapan dirasa matang, kami bertolak ke stasiun Kiara Condong. Untuk kami yang memiliki kantong pas-pasan tapi maunya banyak, kereta api ekonomi kelas kambing menjadi alat transportasi yang sungguh mampuni. Mengeluarkan kocek yang rasanya tidak sampai Rp 40.000,- kami disuguhi sejuta suasana meriah yang kadang buat jengkel. Contoh saja mengenai pengamen. 1 grup pengamen dapat melakukan aksi serupa (ngamen tentunya) dengan kostum yang berbeda-beda minimal 2 kali. Yah, namanya juga usaha cari duit.
Akhirnya kami tiba di sebuah stasiun. Gue lupa apa nama stasiunnya dan di mana kotanya (penyakit gak pernah buat catatan perjalanan). Dari sana kami coba mendekati desa terakhir dengan beberapa kali ganti angkot. Angkot menuju Sarangan kalo gak salah. Sejak awal memang kami merencanakan untuk memulai perjalanan dari Cemoro Kandang (Jawa Tengah) dan turun di Cemoro Sewu (Jawa Timur. Gunung Lawu memang berada tepat di perbatasan Jawa Tengah dan Timur.
Hujan mengiringi langkah awal kami yang memulai start kira-kira lepas makan siang. Dan memutuskan untuk membuka tenda untuk bermalam di post 2 (Taman Sari Atas). Di sepanjang perjalanan banyak sekali kami jumpai bekas-bekas sesajen yang dibawa atau memang sengaja dipersiapkan bagi para pendaki yang bertujuan untuk tirakat atau berziarah. Ada 2 macam pendaki di gunung Lawu ini. Pertama adalah para pendaki biasa seperti kami dan kedua adalah para pendaki yang bertujuan untuk berziarah. Biasanya pada malam satu Suro jumlah pendaki yang bertujuan untuk berziarah akan membludak menjadi sangat banyak. Jadi tak heran sepanjang pendakian pun kami temui bekas-bekas sesajen ataupun bekas warung-warung dadakan.
Setibanya di Hargo dalam saya termenung. Memang benar apa yang saya dapatkan dari para pendaki Gunung Lawu sebelumnya. "Naik Gunung Lawu tuh yang penting uang !" Aneh, mana ada uang yang berlaku di gunung. Ya ! memang benar untuk bebrapa gungung di Jawa tetapi TIDAK untuk di Gunung Lawu ! Di Hargo dumilah terdapat banyak sekali komplek pertapaan, salah satunya yang paling kramat adalah makam kuno tempat mukswa Sang Prabu Brawijaya. Begitu melihat warung otak culas saya tergerak. "Pokoknya malam ini gue gak mau buka tenda dan ngeluarin trangia, kita tidur di warung dan minta simbok untuk masak !" Rasanya tidak ada penolakan yang berarti dari rekan-rekan seperjalanan...Malam memang begitu dingin disertai pula makanan yang terlampau pedas untuk mulut manja seperti gue.
Kami berusaha bangun sepagi mungkin untuk melakukan summit attack ke puncak Hargo Dumilah. Tanpa membawa beban bak batu menhir di puncak cukup mudah. Puncak Hargo Dumilah ditandai dengan sebuah triangulasi berupa tiang balok semen setinggi kurang lebih 2 meter. Tapi dari info yang saya dapatkan dari Anna (teman pencinta Alam Grapala FV I di SMA) balok semen tersebut sudah runtuh.Ritual foto-foto dilakukan dan akhirnya kami kembali menuju Hargo Dalem. Sempat terlintas keinginan untuk mengunjungi lokasi-lokasi menarik di Hargo Dalem seperti tempat-tempat ziarah dan Rumah Botol. Tetapi rasa malas membuat gue hanya bergolek-golek menikmati matahari pagi yang katanya bisa memperkuat tulang. Pada akhirnya menyesal juga saya tidak mengunjung Rumah Botol yang sengaja dibuat oleh seorang pemuda dari Jakarta karena iseng. Dia mengumpulkan banyak sekali puluhan, ratusan bahkan ribuan botol, kaleng bekas yang dibuang oleh pendaki. Teman saya Anna ini bebrapa waktu lalu sempat melakukan penelitian Rumah Botol ini untuk mata kuliah Ilmu Seni dan Estetika (kalo gak salah) di FSRD ITB. Akhirnya kesampaian juga liat Rumah Botol walau hanya lewat laporan hasil analisis si Anna (good job, sis!)
Tak lama berleyeh-leyeh ria, kami memutuskan untuk turun dan menyempati mampir di Sendang Drajat yang konon airnya tidak pernah kering walau kiamat datang. Abe, teman kami berusaha untuk mencoba mandi dengan mengambil airnya. Dan kami juga mengunjung Sumur Jolotundo. Banyak sampah indomie, permen, botol air mineral dan bekas-bekas sesajen yang membuat sumur itu kurang indah untuk dipandang.
Akhirnya kami tiba di Cemoro Sewu, Jawa Timur. Packing ulang dengan membuang sampah dan barang-barang lain yang tidak kami butuhkan sambil bersih-bersih dan langusng bertolak kembali ke Bandung.
Gunung Lawu memang banyak menyimpan memori indah dalam ingatan gue. Entah kapan ada waktu untuk berkunjung ke sana.......
2 comments:
yang bikin rumah botol bukan orang jakarta, tapi orang solo...
cuman bekerja di jakarta...
tks mbah botol....
trus kapan jadi orang jktnya ?
bikin KTP palsu aja....
heheheheh
Post a Comment