StatCount

05 November 2008

Kardus Tidak Sama Dengan Sepedah

Libur Lebaran kemarin, gue bertekat menghabiskan waktu liburan di BANDUNG dan membawa sepeda kesayangan tentunya. Semua gue packing dengan baik. Mulai dari helm, protector, sepatu, pakaian, kolor, alat mandi, dsb. Dan untuk membawa sepeda juga harus dipikirkan dengan baik. Mulai gue mencari-cari info apakah sepeda bisa dibawa ke atas kereta. Dan dari info yang gue dapatkan ternyata gak masalah dan TIDAK ADA BIAYA TAMBAHAN untuk membawa sebuah sepeda asal ban depan dan belakang dicopot. Lalu gue rakit sedemikian rupa supaya mudah untuk dipindah-pindahkan.

Tiba akhirnya gue berangkat ke Bandung. Dengan rasa pede 750% gue masuk melewati pemeriksaan karcis. Lolos ! Bener rupanya gak ada ada biaya tambahan atas sepeda yang gue tenteng-tenteng ini. Sengaja gue memilih posisi tempat duduk paling belakang dalam 1 gerbong kereta agar di belakang bangku gue masih ada space untuk sepedah kesayangan ini. Gue letakkan si sepedah sebaik-baiknya agar gak kesandung atau kesenggol orang waktu lewat. Ransel juga sudah gue taroh di atas tempat barang di atas. Rokok gue keluarkan, HP gue colok earphone supaya bisa ber-mp3 ria, komik Kotaro gue keluarkan supaya bisa sambil baca-baca. Akhirnya kereta mulai bertolak ke Bandung.



















Tiba waktunya pemeriksaan tiket. Dengan PD gue menyerahkan tiket gue dan dihiasi dengan percakapan antara gue dan petugas kereta api yang kira-kira begini :





Petugas : “Siang pak, boleh liat karcsinya?”
Gue : “ Ini karcisnya, Pak”

Petugas : “ Sepedanya punya bapak ya ?”

Gue : “ Iya Pak, mau liburan ke Bandung. Kalo digenjot capek, saya naikin ke
kereta aja.” (sambil ber SKSD ria)

Lalu si petugas menghilang “wusssssssss” sambil memeriksa tiket-tiket penumpang lainnya. Dan gue asik kembali dengan aktifitas gue....merokok, denger mp3, sambil baca Kotaro. Tiba-tiba petugas datang lagi dan nyolek gue sambil berkata :

Petugas : “Maaf Pak, sepeda dikenakan tarif bagasi !”
Gue : “Pak, tadi saya lewat tempat pemeriksaan karcis di Gambir kok gak
ditegur apa-apa ?”

Sambil bingung si petugasnya tetap berkata :

Petugas : “Iya Pak, tapi sepeda tetap dikenakan tarif bagasi !"
(kayaknya jawaban dia gak menjawab apa-apa deh ???)
Gue : “Berapa biayanya, Pak ?"
Petugas : “Dua Puluh Ribu untuk satu buah sepeda !”
Gue : “OK. Boleh minta karcis bagasinya, Pak ?”

Si petugas ngacir lagi, mungkin mau ambil karcis bagasi....Lalu dia balik sambil bilang :

Petugas : “ Maaf pak, kalo pake karcis bagasi dikenakan denda 2 kali lipat !”
Gue : “ Trus saya harus gimana ?”
Petugas : “ Gak usah pake karcis bagasi, Pak! Saya tandain aja karcisnya”
Gue : “Iya deh, Pak”

Gue kasih karcis punya gue dan selembar duit Rp 20.000,00. Lalu dia menuliskan pada sisi kosong di karcis tersebut......”SEPEDAH” sambil diparaf kecil sama dia. (gue juga bisa !!!!). Dan setelah karcis dikembalikan gue iseng tanya :

Gue : “Sorry nih, Pak. Tapi sebernya apa bedanya sepeda saya dengan kardus
itu ?”
(sambil menunjuk satu arah bapak-bapak yang membawa 3 kardus besar yang gue duga isinya adalah 1 buah lapangan sepak bola, 2 buah spring bad ukuran king size, 1 buah kolam renang ukuran olimpic, dan 3 buah lemari es 3 pintu...sangkin besarnya tuh kardus...)

Petugas : “Oh, beda pakkkkk...kalo itu kardus dan kalau ini sepeda !”

Gue : (dalam hati) “Grrrrrrrrrrrrrrr.....@#%kill$&%kill*%@#kill$@^kill$&$ !!!!!"


Foto : Di St.Hall, bandung. Siap dirakit dan ngenjot nanjak ke Ciumbuleuiet

No comments: