BUNDA SEMESTA DI ANTARA KEKUATAAN KULTUR
“We had seen a whole
mountain range, little by little, the lesser to the greater until, incredibly
higher in the sky than imagination had ventured to dream, the top of Everest
itself appeared.”
Itulah sepotong kalimat yang
diucapkan oleh Sir George Herbert Leigh Mallory mengenai kedasyatan dari
Everest, puncak tertinggi di dunia. Walau tidak ada satupun di dunia ini yang
dapat membuktikan apakah George Mallory dan Andrew “Sandy” Irvine berhasil mencapai
puncak Everest atau tidak, first ascend
menuju puncak tertinggi di tahun 1924 membuka mata semua orang untuk menjadikan
Everest obsesi tertinggi dalam hidup. Dan hal ini juga yang membuat gunung ini
menjadi gunung dengan biaya termahal di dunia untuk mencapai puncaknya.
Penamaan gunung ini direkomendasikan oleh Andrew Waugh kepada Royal
Geographical Society, seorang kepala surveyor India berkebangsaan Inggris,
untuk menghormati pemimpin sebelumnya tempat ia bekerja, Sir George Everest.
Walaupun memang Everest telah memiliki nama lain yang diberikan oleh beberapa
pihak. Pihak Nepal menyebutnya Sagarmatha (Dahi Langit), lalu pihak Tibet tidak
mau kalah dalam penamaan ini menyebutnya Chomolungma atau Qomolangma (Bunda
Semesta) yang bila dilafalkan dalam bahasa Tionghua menjadi Zhūmùlǎngmǎ Fēng. Puncak Everest
terletak di garis perbatasan Tibet dan Nepal yang menyebabkan puncak ini dapat
diakses dari dua sisi yaitu Rute Punggungan Tenggara di Nepal dan Rute
Punggungan Timur Laut di Tibet.
Dewasa ini, pendakian menuju puncak Everest tidaklah sesulit sewaktu
Edmund Hillary dan Tenzing Norgay berhasil mencapai Puncak Everest untuk
pertama kalinya pada tanggal 29 Mei 1953. Untuk menembus labirin Ice Fall, Hillary dan timnya harus
bersusah payah berjalan perlahan dengan perlengkapan seadanya seperti satu
sampai dua tangga besi dan beberapa balok kayu untuk menyeberangi jurang salju
raksasa. Sedangkan saat ini para pendaki dengan mudahnya menembus cepat jalur
zig-zag yang memusingkan ini dengan bantuan fixed
ropes dan lusinan tangga alumunium. Dengan perlengkapan yang canggih dan
dukungan climbing sherpa yang
berpengalaman juga menjadikan pendakian ini memperoleh persentase yang jauh
lebih besar tingkat keberhasilannya dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pendaki
hanya tinggal melangkah maju mengikuti semua yang sudah ada tanpa harus
melakukan navigasi “a-i-u-e-o” untuk
menentukan di mana puncak tertinggi. Atau lakukanlah beberapa langkah sederhana
pada global positioning system anda
dan semuanya akan terpampang dengan sangat detil dan terperinci mengenai jarak,
kontur, posis, kemiringan, kecepatan angin, ketinggian, kelembaban dan
sebagainya. Maka tidak heran bila Ambrin Siregar, anggota Mahitala Unpar,
menyimpulkan bahwa kecerdasan spatial Hillary tergolong tinggi. Coba saja
bayangkan successful first ascend
yang dilakukan oleh Hillary pada tahun 1953 melewati Everest Base Camp (5.400
mdpl) hingga puncak tanpa dukungan peta topografis yang baik ataupun foto
satelit.
Rute Punggungan Tenggara
(North East Ridge Route)
Rute Punggungan Tenggara adalah rute yang paling umum digunakan
untuk mencapai atap tertinggi di dunia dan semuanya akan dimulai dari
Kathmandu, ibukota dari Repubrik Demokratik Federal Nepal. Kathmandu terletak
di Lembah Kathmandu di mana lembah ini juga menampung 2 kota lainnya yaitu
Lalitpur (lima kilometer kearah tenggara) dan Bhaktapur (14 km kearah timur).
Kathmandu sendiri terletak di ketinggian 1.400 mdpl di tengah-tengah lembah yang
berbentuk mangkuk yang dikelilingi oleh empat buah gunung yaitu Shivapuri (2.725 mdpl), Phulchowki (2.782 mdpl), Nagarjun (2.128 mdpl) dan Chandragiri
(2.275 mdpl). Kota ini dipenuhi oleh masyarakat yang memeluk agama Hindu dan
Budha. Jadi janganlah heran apabila di seluruh pelosok kota akan dipenuhi
dengan monastery sehingga menjadikan
keagamaan dan budaya menjadi tujuan wisata yang banyak diminati oleh para wisatawan.
Kalau ingin membuktikan hal tersebut, cobalah anda bertanya secara acak kepada
setiap wisatawan yang datang ke Kathmandu, “Mengapa anda datang ke Kathmandu?” Mereka
akan menjawab dengan 4 jawaban utama yaitu monastery,
yoga, trekking, atau gunung salju.
Kathmandu memiliki banyak sekali lokasi unik yang layak untuk
dikunjungi. Luangkan sedikit lebih banyak waktu anda untuk mengunjungi
lokasi-lokasi yang sarat oleh nilai historis dan budaya dari negeri ini. Lokasi
pertama yang harus dikunjungi adalau Dubar Square. Dubar Square adalah lapangan
yang dimiliki oleh kerajaan. Dengan mengunjungi lokasi ini memori kita akan
berjalan mundur ke belakang ketika jaman dahulu Nepal masih terbagi-bagi
menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Ada tiga Dubar Square yang paling terkenal di
Nepal yaitu Kathmandu
Durbar Square, Patan Durbar Square, dan Bhaktapur Durbar Square. Ketiganya merupakan Situs Warisan Budaya Unesco. Selain itu Dubar
Square, berkunjunglah ke Kasthamandap. Kasthamandap adalah sebuah kuil yang
berbentuk pagoda bertingkat tiga. Bangunan ini dibangun pada abad ke 16 oleh Raja Laxmi Narsingha Malla yang bertujuan untuk memberikan penghormatan kepada Dewa Siwa
sehingga di dalam bangunan ini kita akan menemukan patung Goraknath yang
berarti “Tuhan yang melindungi sapi”. Keunikan lainnya dari bangunan ini adalah
hanya menggunakan satu buah pohon sebagai bahan baku utama. Tempat ini dapat
dikunjungi mulai dari tengah malam hingga siang hari. Tetapi simpanlah kamera
anda karena di dalam kuil dilarang keras untuk memotret.
![]() | |||
| Kuil Boudhanath, Kuil dengan bentuk Mandala terbesar Foto : Tim ISSEMU |
Lokasi lainnya yang harus dikunjungi adalah
Kuil Boudhanath. Ini adalah kuli bagi para pemeluk agama Budha yang terletak 11
km dari pusat kota dan sekaligus menjadi tujuan wisata yang paling populer. Boudhanath
juga merupakan mandala yang besar dan merupakan stupa yang berbentuk bola yang
terbesar di Nepal. Di bawah stupa, kita akan menemukan roda doa (prayer wheel) yang mengelilingi bangunan
ini. Roda doa adalah sebuah roda silinder yang pada umumnya terbuat dari kayu,
logam, batu, kulit, dan katun kasar. Di dinding luar silinder tersebut akan
tertulis mantra Om Mani Padme Hum. Om Mani Padme Hum adalah sebuah mantra
yang terdiri dari enam karakter yang berarti “Pujian
Bagi Buddha di Dalam Teratai” (Hail The
Jewel in The Lotus). Memutar silinder ini akan memberikan sensasi luar
biasa dalam sebuah kekhusukan doa. Perhatikan petunjuk untuk memutar roda doa
ini. Jangan sampai anda salah arah dalam memutarnya.
![]() | |
| Prayer Wheel atau roda doa di jalur menuju EBC Foto : Hiroyuki Kuraoka |
Sempatkanlah berkunjung ke Jalan Thamel di sebelah utara kota. Ini
adalah surga bagi para wisatawan di Kathmandu. Anda akan menemukan deretan money changer, operator-operator wisata,
toko cindera mata, toko-toko peralatan outdoor
dan treeking, rumah makan, warnet
hingga hotel-hotel murah kelas melati. Rajin-rajinlah menawar bila anda ingin
membeli lukisan mandala, pisau khukuri khas pasukan Gurka, gelang-gelang cantik
dan kaos bordiran custom. Atau
berkenalan dan bertemanlah dengan pemilik salah satu pemilik toko cindera mata
lalu mintalah bantuannya untuk menawar di toko-toko cindra mata yang lain, maka
anda akan medapatkan harga yang jauh lebih murah. Bagi para gadget freak, jangan khawatir untuk
mencari akses internet di lokasi ini karena di sepanjang jalan Thamel sudah
dideklarasikan sebagai full Wi-Fi zone.
Setelah berkeliling mengunjungi pelosok-pelosok Kathmandu, akhirnya
anda harus menuju Lukla (2.860 mdpl) untuk semakin memperkecil jarak menuju
Everest Base Camp (5.364 mdpl). Perjalanan menuju Lukla dapat ditempuh dengan
menggunakan pesawat terbang. Nikmatilah penerbangan dari Kathmandu ke Lukla karena
anda akan disuguhi oleh pemandangan yang sangat indah. Sesaat pendaratan di
Bandara Tenzing-Hillary di Lukla, segera siapkanlah seluruh mental anda dan
nikmatilah rasa lega luar biasa setelah mendarat di bandara ini. Bandara
Tenzing-Hillary merupakan salah satu bandara yang paling berbahaya di dunia.
Ini disebabkan oleh keunikan landasan pesawat yang hanya memiliki panjang 527
meter dan tingkat kemiringan sebesar 12 derajat untuk membantu memperlambat
laju pesawat saat mendarat ataupun mempercepat laju pesawat pada saat ingin
tinggal landas. Dengan miskinnya jalur landasan pesawat, maka tidak heran anda
hanya akan menemukan pesawat-pesawat berjenis Twin Otter, Dornier
Flugzeugwerke, Beechcraft 1900D, dan Pilatus PC-6 Porter yang memang melakukan
operasi di landasan-landasan pendek dan terpencil seperti bandara ini. Bandara
ini bukanlah bandara yang dapat memberikan kesempatan kedua dalam hal
pendaratan maupun tinggal landas. Dalam proses mendarat, pilot hanya akan
memiliki satu kesempatan berhasil mendaratkan pesawat dengan tepat dan selamat.
Bila kecepatan terlalu tinggi maka bersiaplah menabrak ujung landasan yang
merupakan dinding batu. Bila lepas landas, kemiringan landasan pesawat akan
membantu pesawat menambah kecepatan. Berharaplah pesawat memiliki kecepatan
yang cukup untuk tinggal landas. Kalau tidak? Jangan takut, karena ujung
landasan adalah sebuah lembah yang dalam dan pesawat biasanya akan sedikit
“jatuh” sebelum akhirnya akan naik kembali lalu masuk ke arah rute penerbangan
yang dituju. Penerbangan dari Kathmandu menuju Lukla akan menghabiskan waktu
tempuh selama 45 menit saja. Dan menit-menit terakhir adalah masa-masa yang
paling berkesan.
Lukla adalah sebuah kota yang
terletak di wilayah Distrik Solukhumbu, Zona Sagarmatha, Nepal. Walau Lukla
dapat diartikan sebagai sebuah tempat di mana banyak terdapat kambing dan
domba, anda sangat jarang menemukan kedua hewan tersebut di daerah ini. Lukla
adalah gerbang utama untuk menuju Everest Base Camp dan semuanya akan dilakukan
dengan berjalan kaki. Tidak akan ditemukan kendaraan ataupun angkutan apapun
kecuali pesawat terbang. Ini berarti bahwa semua perjalanan di sepanjang Desa Khumbu
hingga Everest akan dilakukan dengan berjalan kaki. Padahal jika ingin,
pemerintah Nepal bisa saja membangun jalan tembus kearah Everest dan perjalanan
bisa dilakukan dengan kendaraan seperti yang dapat dilakukan di Everest Base
Camp di sisi Tibet. Tetapi berkat budaya dan kultur yang begitu kuat, jalan
tembus itu tidaka akan pernah ada, setidaknya hingga saat ini.
Perjalanan menuju Everest Base
Camp akan melewati beberapa desa. Dan desa-desa ini didiami oleh sebuah suku
yang menamakan dirinya Suku Sherpa. Dalam bahasa Tibet, Shrepa berarti “orang
yang berasal dari Timur” (sher
berarti “timur” dan pa berarti “orang”).
Sebelum kedatangan orang-orang asing di awal tahun 1900, Sherpa hidup
berpindah-pindah atau semi menetap di bawah kontrol teokrasi dari para penganut
agama Budha yang sangat kuat, sebuah pemerintah agama Budha yang mendedikasikan
agama Budha dalam setiap aspek dalam hidupnya. Saat ini seluruh kegiatan
pendakian Everest akan membutuhkan dukungan dari Sherpa. Akan sangat mustahil
bila pendakian Everest tidak melibatkan mereka. Betapa tidak, Sherpa adalah
manusia terkuat di sepanjang sejarah pendakian Everest. Seorang Sherpa dapat
mengangkut beban seberat kurang lebih 50 kilogram dan dapat berjalan dengan
kecepatan yang mengagumkan bila ia adalah seorang high altitude Sherpa. Kekuatan seorang Sherpa “jaman dulu” dan
“jaman sekarang” tidak berubah sama sekali. Mereka akan tetap kuat dan tabah
walaupun kemajuan teknologi sudah berkembang sedemikain pesatnya.
![]() |
| Yak, hewan yang banyak membantu para pendaki di seputaran Himalayan Region Foto : Tim ISSEMU |
Setelah keluar dari Desa Lukla,
perjalanan akan dilanjutkan menuju Desa Phakding (2.400 mdpl). Perjalanan
menuju Phadking akan ditempuh selama kurang lebih tiga jam melewati beberapa
desa yang salah satunya adalah Desa Todo Khola di mana kita dapat melihat
pemandangan cantik dari Gunung Kusum Kangguru (6.369 mdpl). Di sepanjang jalan
desa menuju Phakding akan banyak ditemui bongkah-bongkah batu besar yang
bertuliskan mantra-mantra berbahasa
Nepal. Anda harus berjalan di sisi kiri batu karena di sisi kanan batu adalah
jalur yang digunakan untuk arah yang berlawanan. Mendekati Phakding, kita akan
menyeberang sungai Dudh Kosi yang sangat deras. Jembatan yang dahulunya terbuat
dari kayu kini sudah direnovasi menjadi jembatan baja yang kuat. Pada
perjalanan menuju Everest Base Camp, selain bantuan Sherpa, untuk urusan
angkut-mengangkut logistik, anda dapat mengandalakan jokyo dan yak. Jokyo
adalah adalah percampuran antara yak dan sapi sehingga jokyo hanya dapat
dioperasikan di bawah ketinggian 3.000 mdpl saja karena bulunya yang tipis.
Sedangkan yak dapat digunakan mulai dari Lukla hingga Everest Base Camp.
Esoknya, setelah bermalam di
Phakding, maka perjalanan akan dilanjutkan menuju desa yang berbentuk mangkuk,
Namche Bazzar (3.440 mdpl). Perjalanan hari ini akan menghabiskan waktu selama lima
sampai enam jam. Perjalanan kali ini, anda akan bertemu dengan Jorsale di
ketinggian 2.800 mdpl. Di tempat ini kita akan melewati gerbang yang merupakan
pintu masuk dari Taman Nasional Sagarmatha. Anda akan melakukan registrasi
ulang untuk mendata jumlah trekker dan
pendaki yang terdapat di kasawan Taman Nasional Sagarmatha. Sekitar dua sampai
tiga jam perjalanan dari Jorsale kita akan segera tiba di Namche Bazzar dan menginap
dua malam di sini untuk aktifitas aklimatisasi. Namche Bazzar adalah pusat administratif
di sepanjang wilayah Khumbu sehingga di sana terdapat kantor-kantor
administrasi, pos polisi dan bank. Desa ini sangat unik bila dilihat dari jauh,
selain terletak di dinding lembah yang menyerupai ampiteater, atap-atap bangunan di desa ini mayoritas
berwarna biru. Desa ini juga merupakan titik pertemuan antara para pedangan
Nepal dan Tibet sehingga membuatnya terlihat cukup ramai dengan banyaknya
toko-toko atau aktifitas pasar yang terlihat sangat aktif. Sedikit naik ke
atas, kita akan menemukan landasan Shyangboche (3.750 mdpl). Landasan
ini masih berfungsi dan dapat digunakan untuk mendaratkan pesawat kecil yang
datang dari Lukla.
Meninggalkan Namche Bazzar, kita akan melewati beberapa desa lagi
antara lain Khumjung (3.790 mdpl). Di sini terdapat sekolah yang dibangun oleh
Edmund Hillary Foundation. Desa selanjutnya adalah Tengpoche (3.867 mdpl),
Deboche (3.700 mdpl), Pangboche (3.860 mdpl), Dingpoche (4.350 mdpl), Duglha (4.620 mdpl), Lobuche (4.920 mdpl),
dan Gorakshep (5.100 mdpl). Desa yang disebutkan terakhir adalah desa musiman
yang juga merupakan jalur percabangan untuk anda yang ingin berkunjung ke
Kalapattar (5.545 mdpl) ke sebelah kiri atau Everest Base Camp ke sebelah
kanan. Perjalanan dari Lukla hingga ke Gorakshep selain menyuguhkan pemandangan
lenskap deretan gunung-gunung berselimutkan salju dan budaya-budaya lokal, anda
akan menemukan banyak sekali lodge
dan berbagai macam sarana pendukungnya. Warnet-warnet akan hadir di sepanjang
jalur pendakian menuju Gorakshep. Semakin tinggi elevasi maka biaya warnet akan
semakin mahal tetapi sayangnya kecepatan akan bandwidth akan semakin lambat. Buat anda pemilik gadget Blackberry, jangan khawatir gadget anda ini tidak akan berfungsi. Di
Kathmandu, belilah kartu perdana Ncel yang saat ini sudah dapat mendukung
layanan Blackberry Internet Service
hingga di Everest Base Camp. Jangan lupa persiapkan portable solar panel untuk
mengisi daya pada Blackberry anda dan sanak saudara di tanah air selalu dapat
menerima kabar terbaru dari Khumbu Himal.
![]() |
| Everest Base Camp di pagi hari Foto : Tim ISSEMU |
Everest Base Camp adalah base camp
musiman yang baru akan berdiri dan diisi fasilitas-fasilitas pendukung
pendakian bila musim pendakian telah tiba. Lokasi ini terletak sedikit keluar
dari Khumbu Glacier yang panjang padang saljunya menjulur ke bawah hingga di
ketinggian 5.200 mdpl. Di sini anda hanya akan menemukan padang pasir dan batu
yang tidak beraturan, menjadikan kamp
utama pendakian Everest sisi Nepal ini harus lebih banyak dibenahi agar dapat
nyaman ditinggali selama dua bulan lebih. Beberapa pihak juga menginformasikan
bahwa sebenarnya lahan Everest Base Camp adalah sungai yang beku dan tertutup
batuan. Jadi jangan heran apabila musim semi menjelang, salju-salju itu akan
mencair dan membuat sebuah bidang tanah yang tadinya datar akan menjadi
berkontur dan licin. Siapa pun dapat menempati lokasi ini, dan jangan merasa
aneh apabila filosopi “siapa cepat dia dapat” dan “angkat pantat hilang tempat”
berlaku pula di Everest Base Camp. Bagi mereka yang datang lebih dahulu sebelum
musim pendakian menjelang, maka dia yang akan dapat memilih lokasi kamp yang
paling kondusif tanpa harus menggali, memindahkan batu atau bahkan meratakan gundukan-gundukan
tanah yang bergelombang. Ketika “terompet perang” pendakian Everest
“dibunyikan”, maka secara bertahap tenda-tenda warna-warni akan berdiri, prayer-prayer flag juga akan menjadi landmark yang wajib ada di setiap kamp,
regu atau kelompok masing-masing negara atau operator. Berbondong-bondong
rombongan-rombongan kecil dan besar berangsur-angsur akan berdatangan dari arah
selatan untuk tumplek-blek mengisi
setiap kekosongan pelosok Everest yang akan menjadi pusat perhatian perhelatan
pendakian Everest untuk satu hingga dua bulan mendatang.
=================================================================
![]() |
| Upacara Puja di EBC Foto : Tim ISSEMU |
Bendera-bendera doa (prayer
flags) tidak dapat dipisahkan dari kegiatan pendakian Everest.
Bendera-bendera doa yang membentang di tiap kamp memiliki makna untuk memberkati
dareah-daerah sekitarnya. Umat Budha percaya bahwa bila bendera-bendera ini
berkibar tertiup angin maka mantra-mantra doa yang tertulis pada
bendera-bendera ini akan terbang tinggi terbawa angin dan akan mencapai ke
lokasi tertinggi, tempat Sang Maha Kuasa tinggal. Bendera-bendera ini juga
memiliki aturan khusus dalam urutan pemasangannya. Secara berurutan bendera
akan dimulai dari warna kuning, hijau, merah, putih, biru. Bendera warna kuning
melambangkan Vairocana Buddha dan bumi, warna hijau
melambangkan Amoghasiddhi Buddha dan udara, warna merah melambangkan Amitabha
Buddha dan api, warna putih melambangkan Ratna Sambhava Buddha dan air, dan
warna biru melambangkan Kshobhya Buddha dan angkasa. Bendera-bendera doa akan
berpusat di sebuah tiang yang dibawahnya akan terdapat sebuah altar pemujaan.
Di altar pemujaan ini para pendaki akan memulai ritual doa yang disebut Puja.
Ritual ini akan dipimpin oleh seorang pendeta yang bertujuan untuk meminta ijin
dan perlindungan dari Yang Maha Kuasa untuk keselamatan dan kesuksesan selama
pendakian Everest. Selama berlangsung ritual Puja, siapapun tidak diijinkan
untuk melintas Khumbu Ice Fall agar tidak membuat marah Sang Maha Kuasa.
Peralatan pendakian seperti ice exe, crampon, helmet, dan lain-lain diletakkan di sekitar altar agar ikut
terberkati.
=====================================================
Rute Punggungan Timur Laut
(North East Ridge Route)
Apabila berjalan kaki selama 10 hari lebih menuju Everest Base Camp
adalah hal yang menjemukan buat anda, cobalah kunjungan anda ke Everest Base
Camp (5.200 mdpl) dilakukan dari sisi Tibet. Anda tidak usah khawatir akan
berjalan kaki selama berhari-hari lamanya karena dari kota Lhasa (3.650 mdpl),
Tibet, anda akan menggunakan kendaraan roda empat hingga menuju kamp utama di
kaki dinding utara Everest. Agar dapat tiba di Everest Base Camp, anda harus
menuju ke kota Lhasa. Kota Lhasa adalah ibukota administratif dari daerah
otonomi Tibet di Repubrik Rakyat Cina (RRC). Akhir-akhir ini gesekan-gesekan antara Tibet
dan RRC sering terjadi akibat gerakan dan kampanye Free Tibet yang sering
terjadi akhir-akhir ini. Tetapi pada dasarnya, kawasan Lhasa adalah kawasan
yang indah dan banyak sekali peninggalan budaya yang teramat sayang untuk
dilewatkan begitu saja.Bagi kita, masyarakat tropis yang kebanyakan tinggal hampir sejajar
dengan garis pantai (Maribaya, Lembang memiliki ketinggian kira-kita 1.200
mdpl) mungkin akan menjadi masalah bila berkunjung ke Lhasa. Beberapa biro
perjalanan biasanya akan menyarankan anda untuk melakukan aklimatisasi sehari
penuh terlebih dahulu dengan menetap di dalam hotel. Untuk mendukung program
aklimatisasi di kota ini, lapangan terbang, kereta api dan beberapa hotel
dilengkapi dengan oksigen. Lhasa adalah tempat di mana Istana Potala yang
terkenal itu berdiri. Istana Potala didirikan pada tahun 1645 oleh Dalai Lama
kelima sebagai pusat pemerintahan. Tetapi akibat pemberontakan yang terjadi
pada tahun 1959, Dalai Lama ke 14 terpaksa meninggalkan Istana Potala dan
melarikan diri ke Dharamsala, India. Saat ini Istana Potala sudah tidak
digunakan sebagai pusat pemerintahan ataupun tempat tinggal Dalai Lama. Istana
Potala saat ini adalah sebuah museum dan pada tahun 2001, istana ini ditetapkan
sebagai salah satu situs warisan budaya oleh Unesco.
Tidak jauh dari Istana Potala terdapat sebuah biara suci umat Budha
yaitu Kuil Jokhang atau berarti “rumah Tuhan”. Jokhang merupakan lokasi ziarah
utama bagi penganut Budha yang dibangun pada abad ke tujuh oleh Raja Songtsen Gampo.
Tetapi bangunan Jokhang yang kita liat sekarang sebagian besar merupakan bagian
dari rekonstruksi ulang pada abad ke 17 yang dilakukan pada jaman pemerintahan
Dalai Lama kelima. Jauh sebelum kuil ini berdiri, lokasi ini adalah sebuah
danau. Sebuah legenda menceritakan Raja Songtsen Gampo pernah berjanji bahwa
dia akan melemparkan sebuah cincin dan lokasi tempat cincin itu jatuh akan
dibangun sebuah kuil pemujaan. Tetapi cincin itu jatuh ke dalam sebuah danau.
Dan secara ajaib munculah sebuah stupa putih dari dalam air. Dan akhirnya
tempat itu pun dibangun menjadi sebuah kuil hingga sekarang.Apabila anda telah selesai mengunjungi Jokhang, habiskanlah waktu
anda di sekitar kuil. Anda akan menemukan Jalan Barkhor yang mengelilingi Kuil
Jokhang. Para peziarah yang datang untuk mengunjungi Jokhang akan berkeliling
searah jarum jam dan memanjatkan doa dengan cara yang unik. Mereka akan
berjalan lalu bersujut sambil menyeret tanganya kearah depan hingga seluruh
terlentang penuh. Ini dilakukan ketika peziarah tersebut bertemu pintu kuil
yang berjumlah empat buah di tiap sisi. Di sepanjang sisi jalan adalah
toko-toko dan kios-kios yang menjual cindera mata. Ini adalah surga bagi para
wisatawan yang ingin berbelanja. Janganlah berjalan berlawanan dengan arah
jarum jam untuk menghormati para peziarah yang melakukan ritual doa dengan
mengelilingi jalan ini searah dengan jarum jam. Bila ingin berburu cindera mata
di daerah ini, lakukanlah pada pagi hingga sore hari karena mulai pada pukul
enam sore, jalan ini akan berubah menjadi pasar yang menjual kebutuhan
sehari-hari dan jalan ini akan sesak dipenuhi orang yang akan berbelanja dan
mengakibatkan jalan anda menjadi mudah tersesat. Ingat untuk menawar dengan
ulet bila ingin berbelanja atau bandingkan dengan toko-toko sejenis yang
mungkin dapat memberikan harga yang lebih murah untuk barang sejenis. Dan
usahakan berbelanja pada saat toko baru dibuka atau akan ditutup. Menurut
tradisi, orang Tibet akan memberikan potongan harga untuk pelanggan pertama dan
terakhir.
Perjalanan menuju Everest Base Camp kali ini akan menggunakan
kendaraan roda empat. Perjalanan akan menempuh jarak 100 km dari Lhasa melewati
beberapa kota dan bermalam di sana untuk proses aklimatisasi. Hari pertama kita
akan bermalam di kota Shigatse (3.900 mdpl) dan anda akan mengunjungi beberapa
kuil yang ada di lokasi ini. Hari selanjutnya perjalanan akan dilanjutkan menuju
kota Shegar (4.350 mdpl) dan bermalam di sini. Baru esoknya kita akan tiba di
Everest Base Camp. Sebelum mencapai Everest Base Camp, kita dapat mengunjungi
Kuil Rongbuk (4.980 mdpl) yang berjarak sekitar delapan kilometer dari Everest
Base Camp. Kuil Rongbuk adalah kuil tertinggi di dunia dan terletak di ujung
lembah Dzakar Chu. Kuil Rongbuk didirikan antara tahun 1989 hingga tahun 1902
oleh Nyingmapa Lama Ngawang Tenzin Norbu dan sempat hancur pada tahun 1974.
Tetapi pada tahun 1982, renovasi besar-besaran dilakukan untuk membangun kuil
ini kembali dan menghasilkan mural-mural baru yang sangat indah. Everest Base
Camp di sisi Tibet menyajikan pemandangan yang amat berbeda bila dibandingkan
dengan Everest Base Camp di sisi Nepal. Di sini, anda akan menemukan dataran
pasir yang luas dan cukup rata. Karena masalah perijinan dan kesulitan akses
menuju Nepal, beberapa operator pendakian Everest meniadakan paket pendakian
Everest mereka dari sisi Tibet. Tetapi dengan membaiknya kondisi keamanan di
Tibet, akses pendakian menuju puncak tertinggi ini dibuka kembali dari sisi
Tibet dan kembali memeriahkan Everest Base Camp dengan tenda-tenda dome beraneka warna.





No comments:
Post a Comment