StatCount

15 January 2013

The Ultimate Seven Base Camp of The Seven Summits of The World - Everest, Nepal/Tibet

BUNDA SEMESTA DI ANTARA KEKUATAAN KULTUR

“We had seen a whole mountain range, little by little, the lesser to the greater until, incredibly higher in the sky than imagination had ventured to dream, the top of Everest itself appeared.” 

Itulah sepotong kalimat yang diucapkan oleh Sir George Herbert Leigh Mallory mengenai kedasyatan dari Everest, puncak tertinggi di dunia. Walau tidak ada satupun di dunia ini yang dapat membuktikan apakah George Mallory dan Andrew “Sandy” Irvine berhasil mencapai puncak Everest atau tidak, first ascend menuju puncak tertinggi di tahun 1924 membuka mata semua orang untuk menjadikan Everest obsesi tertinggi dalam hidup. Dan hal ini juga yang membuat gunung ini menjadi gunung dengan biaya termahal di dunia untuk mencapai puncaknya.
Penamaan gunung ini direkomendasikan oleh Andrew Waugh kepada Royal Geographical Society, seorang kepala surveyor India berkebangsaan Inggris, untuk menghormati pemimpin sebelumnya tempat ia bekerja, Sir George Everest. Walaupun memang Everest telah memiliki nama lain yang diberikan oleh beberapa pihak. Pihak Nepal menyebutnya Sagarmatha (Dahi Langit), lalu pihak Tibet tidak mau kalah dalam penamaan ini menyebutnya Chomolungma atau Qomolangma (Bunda Semesta) yang bila dilafalkan dalam bahasa Tionghua menjadi Zhūmùlǎngmǎ Fēng. Puncak Everest terletak di garis perbatasan Tibet dan Nepal yang menyebabkan puncak ini dapat diakses dari dua sisi yaitu Rute Punggungan Tenggara di Nepal dan Rute Punggungan Timur Laut di Tibet.

Dewasa ini, pendakian menuju puncak Everest tidaklah sesulit sewaktu Edmund Hillary dan Tenzing Norgay berhasil mencapai Puncak Everest untuk pertama kalinya pada tanggal 29 Mei 1953. Untuk menembus labirin Ice Fall, Hillary dan timnya harus bersusah payah berjalan perlahan dengan perlengkapan seadanya seperti satu sampai dua tangga besi dan beberapa balok kayu untuk menyeberangi jurang salju raksasa. Sedangkan saat ini para pendaki dengan mudahnya menembus cepat jalur zig-zag yang memusingkan ini dengan bantuan fixed ropes dan lusinan tangga alumunium. Dengan perlengkapan yang canggih dan dukungan climbing sherpa yang berpengalaman juga menjadikan pendakian ini memperoleh persentase yang jauh lebih besar tingkat keberhasilannya dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pendaki hanya tinggal melangkah maju mengikuti semua yang sudah ada tanpa harus melakukan navigasi “a-i-u-e-o” untuk menentukan di mana puncak tertinggi. Atau lakukanlah beberapa langkah sederhana pada global positioning system anda dan semuanya akan terpampang dengan sangat detil dan terperinci mengenai jarak, kontur, posis, kemiringan, kecepatan angin, ketinggian, kelembaban dan sebagainya. Maka tidak heran bila Ambrin Siregar, anggota Mahitala Unpar, menyimpulkan bahwa kecerdasan spatial Hillary tergolong tinggi. Coba saja bayangkan successful first ascend yang dilakukan oleh Hillary pada tahun 1953 melewati Everest Base Camp (5.400 mdpl) hingga puncak tanpa dukungan peta topografis yang baik ataupun foto satelit.

Rute Punggungan Tenggara (North East Ridge Route) 
Rute Punggungan Tenggara adalah rute yang paling umum digunakan untuk mencapai atap tertinggi di dunia dan semuanya akan dimulai dari Kathmandu, ibukota dari Repubrik Demokratik Federal Nepal. Kathmandu terletak di Lembah Kathmandu di mana lembah ini juga menampung 2 kota lainnya yaitu Lalitpur (lima kilometer kearah tenggara) dan Bhaktapur (14 km kearah timur). Kathmandu sendiri terletak di ketinggian 1.400 mdpl di tengah-tengah lembah yang berbentuk mangkuk yang dikelilingi oleh empat buah gunung yaitu Shivapuri (2.725 mdpl), Phulchowki (2.782 mdpl), Nagarjun (2.128 mdpl) dan Chandragiri (2.275 mdpl). Kota ini dipenuhi oleh masyarakat yang memeluk agama Hindu dan Budha. Jadi janganlah heran apabila di seluruh pelosok kota akan dipenuhi dengan monastery sehingga menjadikan keagamaan dan budaya menjadi tujuan wisata yang banyak diminati oleh para wisatawan. Kalau ingin membuktikan hal tersebut, cobalah anda bertanya secara acak kepada setiap wisatawan yang datang ke Kathmandu, Mengapa anda datang ke Kathmandu?” Mereka akan menjawab dengan 4 jawaban utama yaitu monastery, yoga, trekking, atau gunung salju.

Kathmandu memiliki banyak sekali lokasi unik yang layak untuk dikunjungi. Luangkan sedikit lebih banyak waktu anda untuk mengunjungi lokasi-lokasi yang sarat oleh nilai historis dan budaya dari negeri ini. Lokasi pertama yang harus dikunjungi adalau Dubar Square. Dubar Square adalah lapangan yang dimiliki oleh kerajaan. Dengan mengunjungi lokasi ini memori kita akan berjalan mundur ke belakang ketika jaman dahulu Nepal masih terbagi-bagi menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Ada tiga Dubar Square yang paling terkenal di Nepal yaitu Kathmandu Durbar Square, Patan Durbar Square, dan Bhaktapur Durbar Square. Ketiganya merupakan Situs Warisan Budaya Unesco. Selain itu Dubar Square, berkunjunglah ke Kasthamandap. Kasthamandap adalah sebuah kuil yang berbentuk pagoda bertingkat tiga. Bangunan ini dibangun pada abad ke 16 oleh Raja Laxmi Narsingha Malla yang bertujuan untuk memberikan penghormatan kepada Dewa Siwa sehingga di dalam bangunan ini kita akan menemukan patung Goraknath yang berarti “Tuhan yang melindungi sapi”. Keunikan lainnya dari bangunan ini adalah hanya menggunakan satu buah pohon sebagai bahan baku utama. Tempat ini dapat dikunjungi mulai dari tengah malam hingga siang hari. Tetapi simpanlah kamera anda karena di dalam kuil dilarang keras untuk memotret.

Kuil Boudhanath, Kuil dengan bentuk Mandala terbesar
Foto : Tim ISSEMU



 Lokasi lainnya yang harus dikunjungi adalah Kuil Boudhanath. Ini adalah kuli bagi para pemeluk agama Budha yang terletak 11 km dari pusat kota dan sekaligus menjadi tujuan wisata yang paling populer. Boudhanath juga merupakan mandala yang besar dan merupakan stupa yang berbentuk bola yang terbesar di Nepal. Di bawah stupa, kita akan menemukan roda doa (prayer wheel) yang mengelilingi bangunan ini. Roda doa adalah sebuah roda silinder yang pada umumnya terbuat dari kayu, logam, batu, kulit, dan katun kasar. Di dinding luar silinder tersebut akan tertulis mantra Om Mani Padme Hum. Om Mani Padme Hum adalah sebuah mantra yang terdiri dari enam karakter yang berarti “Pujian Bagi Buddha di Dalam Teratai” (Hail The Jewel in The Lotus). Memutar silinder ini akan memberikan sensasi luar biasa dalam sebuah kekhusukan doa. Perhatikan petunjuk untuk memutar roda doa ini. Jangan sampai anda salah arah dalam memutarnya.

Prayer Wheel atau roda doa di jalur menuju EBC
Foto : Hiroyuki Kuraoka

Sempatkanlah berkunjung ke Jalan Thamel di sebelah utara kota. Ini adalah surga bagi para wisatawan di Kathmandu. Anda akan menemukan deretan money changer, operator-operator wisata, toko cindera mata, toko-toko peralatan outdoor dan treeking, rumah makan, warnet hingga hotel-hotel murah kelas melati. Rajin-rajinlah menawar bila anda ingin membeli lukisan mandala, pisau khukuri khas pasukan Gurka, gelang-gelang cantik dan kaos bordiran custom. Atau berkenalan dan bertemanlah dengan pemilik salah satu pemilik toko cindera mata lalu mintalah bantuannya untuk menawar di toko-toko cindra mata yang lain, maka anda akan medapatkan harga yang jauh lebih murah. Bagi para gadget freak, jangan khawatir untuk mencari akses internet di lokasi ini karena di sepanjang jalan Thamel sudah dideklarasikan sebagai full Wi-Fi zone.

Setelah berkeliling mengunjungi pelosok-pelosok Kathmandu, akhirnya anda harus menuju Lukla (2.860 mdpl) untuk semakin memperkecil jarak menuju Everest Base Camp (5.364 mdpl). Perjalanan menuju Lukla dapat ditempuh dengan menggunakan pesawat terbang. Nikmatilah penerbangan dari Kathmandu ke Lukla karena anda akan disuguhi oleh pemandangan yang sangat indah. Sesaat pendaratan di Bandara Tenzing-Hillary di Lukla, segera siapkanlah seluruh mental anda dan nikmatilah rasa lega luar biasa setelah mendarat di bandara ini. Bandara Tenzing-Hillary merupakan salah satu bandara yang paling berbahaya di dunia. Ini disebabkan oleh keunikan landasan pesawat yang hanya memiliki panjang 527 meter dan tingkat kemiringan sebesar 12 derajat untuk membantu memperlambat laju pesawat saat mendarat ataupun mempercepat laju pesawat pada saat ingin tinggal landas. Dengan miskinnya jalur landasan pesawat, maka tidak heran anda hanya akan menemukan pesawat-pesawat berjenis Twin Otter, Dornier Flugzeugwerke, Beechcraft 1900D, dan Pilatus PC-6 Porter yang memang melakukan operasi di landasan-landasan pendek dan terpencil seperti bandara ini. Bandara ini bukanlah bandara yang dapat memberikan kesempatan kedua dalam hal pendaratan maupun tinggal landas. Dalam proses mendarat, pilot hanya akan memiliki satu kesempatan berhasil mendaratkan pesawat dengan tepat dan selamat. Bila kecepatan terlalu tinggi maka bersiaplah menabrak ujung landasan yang merupakan dinding batu. Bila lepas landas, kemiringan landasan pesawat akan membantu pesawat menambah kecepatan. Berharaplah pesawat memiliki kecepatan yang cukup untuk tinggal landas. Kalau tidak? Jangan takut, karena ujung landasan adalah sebuah lembah yang dalam dan pesawat biasanya akan sedikit “jatuh” sebelum akhirnya akan naik kembali lalu masuk ke arah rute penerbangan yang dituju. Penerbangan dari Kathmandu menuju Lukla akan menghabiskan waktu tempuh selama 45 menit saja. Dan menit-menit terakhir adalah masa-masa yang paling berkesan. 

Lukla adalah sebuah kota yang terletak di wilayah Distrik Solukhumbu, Zona Sagarmatha, Nepal. Walau Lukla dapat diartikan sebagai sebuah tempat di mana banyak terdapat kambing dan domba, anda sangat jarang menemukan kedua hewan tersebut di daerah ini. Lukla adalah gerbang utama untuk menuju Everest Base Camp dan semuanya akan dilakukan dengan berjalan kaki. Tidak akan ditemukan kendaraan ataupun angkutan apapun kecuali pesawat terbang. Ini berarti bahwa semua perjalanan di sepanjang Desa Khumbu hingga Everest akan dilakukan dengan berjalan kaki. Padahal jika ingin, pemerintah Nepal bisa saja membangun jalan tembus kearah Everest dan perjalanan bisa dilakukan dengan kendaraan seperti yang dapat dilakukan di Everest Base Camp di sisi Tibet. Tetapi berkat budaya dan kultur yang begitu kuat, jalan tembus itu tidaka akan pernah ada, setidaknya hingga saat ini.

Perjalanan menuju Everest Base Camp akan melewati beberapa desa. Dan desa-desa ini didiami oleh sebuah suku yang menamakan dirinya Suku Sherpa. Dalam bahasa Tibet, Shrepa berarti “orang yang berasal dari Timur” (sher berarti “timur” dan pa berarti “orang”). Sebelum kedatangan orang-orang asing di awal tahun 1900, Sherpa hidup berpindah-pindah atau semi menetap di bawah kontrol teokrasi dari para penganut agama Budha yang sangat kuat, sebuah pemerintah agama Budha yang mendedikasikan agama Budha dalam setiap aspek dalam hidupnya. Saat ini seluruh kegiatan pendakian Everest akan membutuhkan dukungan dari Sherpa. Akan sangat mustahil bila pendakian Everest tidak melibatkan mereka. Betapa tidak, Sherpa adalah manusia terkuat di sepanjang sejarah pendakian Everest. Seorang Sherpa dapat mengangkut beban seberat kurang lebih 50 kilogram dan dapat berjalan dengan kecepatan yang mengagumkan bila ia adalah seorang high altitude Sherpa. Kekuatan seorang Sherpa “jaman dulu” dan “jaman sekarang” tidak berubah sama sekali. Mereka akan tetap kuat dan tabah walaupun kemajuan teknologi sudah berkembang sedemikain pesatnya.

Yak, hewan yang banyak membantu para pendaki di seputaran
Himalayan Region
Foto : Tim ISSEMU
Setelah keluar dari Desa Lukla, perjalanan akan dilanjutkan menuju Desa Phakding (2.400 mdpl). Perjalanan menuju Phadking akan ditempuh selama kurang lebih tiga jam melewati beberapa desa yang salah satunya adalah Desa Todo Khola di mana kita dapat melihat pemandangan cantik dari Gunung Kusum Kangguru (6.369 mdpl). Di sepanjang jalan desa menuju Phakding akan banyak ditemui bongkah-bongkah batu besar yang bertuliskan mantra-mantra  berbahasa Nepal. Anda harus berjalan di sisi kiri batu karena di sisi kanan batu adalah jalur yang digunakan untuk arah yang berlawanan. Mendekati Phakding, kita akan menyeberang sungai Dudh Kosi yang sangat deras. Jembatan yang dahulunya terbuat dari kayu kini sudah direnovasi menjadi jembatan baja yang kuat. Pada perjalanan menuju Everest Base Camp, selain bantuan Sherpa, untuk urusan angkut-mengangkut logistik, anda dapat mengandalakan jokyo dan yak. Jokyo adalah adalah percampuran antara yak dan sapi sehingga jokyo hanya dapat dioperasikan di bawah ketinggian 3.000 mdpl saja karena bulunya yang tipis. Sedangkan yak dapat digunakan mulai dari Lukla hingga Everest Base Camp.

Esoknya, setelah bermalam di Phakding, maka perjalanan akan dilanjutkan menuju desa yang berbentuk mangkuk, Namche Bazzar (3.440 mdpl). Perjalanan hari ini akan menghabiskan waktu selama lima sampai enam jam. Perjalanan kali ini, anda akan bertemu dengan Jorsale di ketinggian 2.800 mdpl. Di tempat ini kita akan melewati gerbang yang merupakan pintu masuk dari Taman Nasional Sagarmatha. Anda akan melakukan registrasi ulang untuk mendata jumlah trekker dan pendaki yang terdapat di kasawan Taman Nasional Sagarmatha. Sekitar dua sampai tiga jam perjalanan dari Jorsale kita akan segera tiba di Namche Bazzar dan menginap dua malam di sini untuk aktifitas aklimatisasi. Namche Bazzar adalah pusat administratif di sepanjang wilayah Khumbu sehingga di sana terdapat kantor-kantor administrasi, pos polisi dan bank. Desa ini sangat unik bila dilihat dari jauh, selain terletak di dinding lembah yang menyerupai ampiteater, atap-atap bangunan di desa ini mayoritas berwarna biru. Desa ini juga merupakan titik pertemuan antara para pedangan Nepal dan Tibet sehingga membuatnya terlihat cukup ramai dengan banyaknya toko-toko atau aktifitas pasar yang terlihat sangat aktif. Sedikit naik ke atas, kita akan menemukan landasan Shyangboche (3.750 mdpl). Landasan ini masih berfungsi dan dapat digunakan untuk mendaratkan pesawat kecil yang datang dari Lukla.

Meninggalkan Namche Bazzar, kita akan melewati beberapa desa lagi antara lain Khumjung (3.790 mdpl). Di sini terdapat sekolah yang dibangun oleh Edmund Hillary Foundation. Desa selanjutnya adalah Tengpoche (3.867 mdpl), Deboche (3.700 mdpl), Pangboche (3.860 mdpl), Dingpoche (4.350 mdpl),  Duglha (4.620 mdpl), Lobuche (4.920 mdpl), dan Gorakshep (5.100 mdpl). Desa yang disebutkan terakhir adalah desa musiman yang juga merupakan jalur percabangan untuk anda yang ingin berkunjung ke Kalapattar (5.545 mdpl) ke sebelah kiri atau Everest Base Camp ke sebelah kanan. Perjalanan dari Lukla hingga ke Gorakshep selain menyuguhkan pemandangan lenskap deretan gunung-gunung berselimutkan salju dan budaya-budaya lokal, anda akan menemukan banyak sekali lodge dan berbagai macam sarana pendukungnya. Warnet-warnet akan hadir di sepanjang jalur pendakian menuju Gorakshep. Semakin tinggi elevasi maka biaya warnet akan semakin mahal tetapi sayangnya kecepatan akan bandwidth akan semakin lambat. Buat anda pemilik gadget Blackberry, jangan khawatir gadget anda ini tidak akan berfungsi. Di Kathmandu, belilah kartu perdana Ncel yang saat ini sudah dapat mendukung layanan Blackberry Internet Service hingga di Everest Base Camp. Jangan lupa persiapkan portable solar panel untuk mengisi daya pada Blackberry anda dan sanak saudara di tanah air selalu dapat menerima kabar terbaru dari Khumbu Himal.

Everest Base Camp di pagi hari
Foto : Tim ISSEMU
Everest Base Camp adalah base camp musiman yang baru akan berdiri dan diisi fasilitas-fasilitas pendukung pendakian bila musim pendakian telah tiba. Lokasi ini terletak sedikit keluar dari Khumbu Glacier yang panjang padang saljunya menjulur ke bawah hingga di ketinggian 5.200 mdpl. Di sini anda hanya akan menemukan padang pasir dan batu yang  tidak beraturan, menjadikan kamp utama pendakian Everest sisi Nepal ini harus lebih banyak dibenahi agar dapat nyaman ditinggali selama dua bulan lebih. Beberapa pihak juga menginformasikan bahwa sebenarnya lahan Everest Base Camp adalah sungai yang beku dan tertutup batuan. Jadi jangan heran apabila musim semi menjelang, salju-salju itu akan mencair dan membuat sebuah bidang tanah yang tadinya datar akan menjadi berkontur dan licin. Siapa pun dapat menempati lokasi ini, dan jangan merasa aneh apabila filosopi “siapa cepat dia dapat” dan “angkat pantat hilang tempat” berlaku pula di Everest Base Camp. Bagi mereka yang datang lebih dahulu sebelum musim pendakian menjelang, maka dia yang akan dapat memilih lokasi kamp yang paling kondusif tanpa harus menggali, memindahkan batu atau bahkan meratakan gundukan-gundukan tanah yang bergelombang. Ketika “terompet perang” pendakian Everest “dibunyikan”, maka secara bertahap tenda-tenda warna-warni akan berdiri, prayer­-prayer flag juga akan menjadi landmark yang wajib ada di setiap kamp, regu atau kelompok masing-masing negara atau operator. Berbondong-bondong rombongan-rombongan kecil dan besar berangsur-angsur akan berdatangan dari arah selatan untuk tumplek-blek mengisi setiap kekosongan pelosok Everest yang akan menjadi pusat perhatian perhelatan pendakian Everest untuk satu hingga dua bulan mendatang. 

=================================================================
Upacara Puja di EBC
Foto : Tim ISSEMU
Bendera-bendera doa (prayer flags) tidak dapat dipisahkan dari kegiatan pendakian Everest. Bendera-bendera doa yang membentang di tiap kamp memiliki makna untuk memberkati dareah-daerah sekitarnya. Umat Budha percaya bahwa bila bendera-bendera ini berkibar tertiup angin maka mantra-mantra doa yang tertulis pada bendera-bendera ini akan terbang tinggi terbawa angin dan akan mencapai ke lokasi tertinggi, tempat Sang Maha Kuasa tinggal. Bendera-bendera ini juga memiliki aturan khusus dalam urutan pemasangannya. Secara berurutan bendera akan dimulai dari warna kuning, hijau, merah, putih, biru. Bendera warna kuning melambangkan Vairocana Buddha dan bumi, warna hijau melambangkan Amoghasiddhi Buddha dan udara, warna merah melambangkan Amitabha Buddha dan api, warna putih melambangkan Ratna Sambhava Buddha dan air, dan warna biru melambangkan Kshobhya Buddha dan angkasa. Bendera-bendera doa akan berpusat di sebuah tiang yang dibawahnya akan terdapat sebuah altar pemujaan. Di altar pemujaan ini para pendaki akan memulai ritual doa yang disebut Puja. Ritual ini akan dipimpin oleh seorang pendeta yang bertujuan untuk meminta ijin dan perlindungan dari Yang Maha Kuasa untuk keselamatan dan kesuksesan selama pendakian Everest. Selama berlangsung ritual Puja, siapapun tidak diijinkan untuk melintas Khumbu Ice Fall agar tidak membuat marah Sang Maha Kuasa. Peralatan pendakian seperti ice exe, crampon, helmet, dan lain-lain diletakkan di sekitar altar agar ikut terberkati. 
=====================================================

Rute Punggungan Timur Laut (North East Ridge Route) 
Apabila berjalan kaki selama 10 hari lebih menuju Everest Base Camp adalah hal yang menjemukan buat anda, cobalah kunjungan anda ke Everest Base Camp (5.200 mdpl) dilakukan dari sisi Tibet. Anda tidak usah khawatir akan berjalan kaki selama berhari-hari lamanya karena dari kota Lhasa (3.650 mdpl), Tibet, anda akan menggunakan kendaraan roda empat hingga menuju kamp utama di kaki dinding utara Everest. Agar dapat tiba di Everest Base Camp, anda harus menuju ke kota Lhasa. Kota Lhasa adalah ibukota administratif dari daerah otonomi Tibet di Repubrik Rakyat Cina (RRC). Akhir-akhir ini gesekan-gesekan antara Tibet dan RRC sering terjadi akibat gerakan dan kampanye Free Tibet yang sering terjadi akhir-akhir ini. Tetapi pada dasarnya, kawasan Lhasa adalah kawasan yang indah dan banyak sekali peninggalan budaya yang teramat sayang untuk dilewatkan begitu saja.Bagi kita, masyarakat tropis yang kebanyakan tinggal hampir sejajar dengan garis pantai (Maribaya, Lembang memiliki ketinggian kira-kita 1.200 mdpl) mungkin akan menjadi masalah bila berkunjung ke Lhasa. Beberapa biro perjalanan biasanya akan menyarankan anda untuk melakukan aklimatisasi sehari penuh terlebih dahulu dengan menetap di dalam hotel. Untuk mendukung program aklimatisasi di kota ini, lapangan terbang, kereta api dan beberapa hotel dilengkapi dengan oksigen. Lhasa adalah tempat di mana Istana Potala yang terkenal itu berdiri. Istana Potala didirikan pada tahun 1645 oleh Dalai Lama kelima sebagai pusat pemerintahan. Tetapi akibat pemberontakan yang terjadi pada tahun 1959, Dalai Lama ke 14 terpaksa meninggalkan Istana Potala dan melarikan diri ke Dharamsala, India. Saat ini Istana Potala sudah tidak digunakan sebagai pusat pemerintahan ataupun tempat tinggal Dalai Lama. Istana Potala saat ini adalah sebuah museum dan pada tahun 2001, istana ini ditetapkan sebagai salah satu situs warisan budaya oleh Unesco. 


Tidak jauh dari Istana Potala terdapat sebuah biara suci umat Budha yaitu Kuil Jokhang atau berarti “rumah Tuhan”. Jokhang merupakan lokasi ziarah utama bagi penganut Budha yang dibangun pada abad ke tujuh oleh Raja Songtsen Gampo. Tetapi bangunan Jokhang yang kita liat sekarang sebagian besar merupakan bagian dari rekonstruksi ulang pada abad ke 17 yang dilakukan pada jaman pemerintahan Dalai Lama kelima. Jauh sebelum kuil ini berdiri, lokasi ini adalah sebuah danau. Sebuah legenda menceritakan Raja Songtsen Gampo pernah berjanji bahwa dia akan melemparkan sebuah cincin dan lokasi tempat cincin itu jatuh akan dibangun sebuah kuil pemujaan. Tetapi cincin itu jatuh ke dalam sebuah danau. Dan secara ajaib munculah sebuah stupa putih dari dalam air. Dan akhirnya tempat itu pun dibangun menjadi sebuah kuil hingga sekarang.Apabila anda telah selesai mengunjungi Jokhang, habiskanlah waktu anda di sekitar kuil. Anda akan menemukan Jalan Barkhor yang mengelilingi Kuil Jokhang. Para peziarah yang datang untuk mengunjungi Jokhang akan berkeliling searah jarum jam dan memanjatkan doa dengan cara yang unik. Mereka akan berjalan lalu bersujut sambil menyeret tanganya kearah depan hingga seluruh terlentang penuh. Ini dilakukan ketika peziarah tersebut bertemu pintu kuil yang berjumlah empat buah di tiap sisi. Di sepanjang sisi jalan adalah toko-toko dan kios-kios yang menjual cindera mata. Ini adalah surga bagi para wisatawan yang ingin berbelanja. Janganlah berjalan berlawanan dengan arah jarum jam untuk menghormati para peziarah yang melakukan ritual doa dengan mengelilingi jalan ini searah dengan jarum jam. Bila ingin berburu cindera mata di daerah ini, lakukanlah pada pagi hingga sore hari karena mulai pada pukul enam sore, jalan ini akan berubah menjadi pasar yang menjual kebutuhan sehari-hari dan jalan ini akan sesak dipenuhi orang yang akan berbelanja dan mengakibatkan jalan anda menjadi mudah tersesat. Ingat untuk menawar dengan ulet bila ingin berbelanja atau bandingkan dengan toko-toko sejenis yang mungkin dapat memberikan harga yang lebih murah untuk barang sejenis. Dan usahakan berbelanja pada saat toko baru dibuka atau akan ditutup. Menurut tradisi, orang Tibet akan memberikan potongan harga untuk pelanggan pertama dan terakhir.
Perjalanan menuju Everest Base Camp kali ini akan menggunakan kendaraan roda empat. Perjalanan akan menempuh jarak 100 km dari Lhasa melewati beberapa kota dan bermalam di sana untuk proses aklimatisasi. Hari pertama kita akan bermalam di kota Shigatse (3.900 mdpl) dan anda akan mengunjungi beberapa kuil yang ada di lokasi ini. Hari selanjutnya perjalanan akan dilanjutkan menuju kota Shegar (4.350 mdpl) dan bermalam di sini. Baru esoknya kita akan tiba di Everest Base Camp. Sebelum mencapai Everest Base Camp, kita dapat mengunjungi Kuil Rongbuk (4.980 mdpl) yang berjarak sekitar delapan kilometer dari Everest Base Camp. Kuil Rongbuk adalah kuil tertinggi di dunia dan terletak di ujung lembah Dzakar Chu. Kuil Rongbuk didirikan antara tahun 1989 hingga tahun 1902 oleh Nyingmapa Lama Ngawang Tenzin Norbu dan sempat hancur pada tahun 1974. Tetapi pada tahun 1982, renovasi besar-besaran dilakukan untuk membangun kuil ini kembali dan menghasilkan mural-mural baru yang sangat indah. Everest Base Camp di sisi Tibet menyajikan pemandangan yang amat berbeda bila dibandingkan dengan Everest Base Camp di sisi Nepal. Di sini, anda akan menemukan dataran pasir yang luas dan cukup rata. Karena masalah perijinan dan kesulitan akses menuju Nepal, beberapa operator pendakian Everest meniadakan paket pendakian Everest mereka dari sisi Tibet. Tetapi dengan membaiknya kondisi keamanan di Tibet, akses pendakian menuju puncak tertinggi ini dibuka kembali dari sisi Tibet dan kembali memeriahkan Everest Base Camp dengan tenda-tenda dome beraneka warna.

No comments: