Setelah menyelesaikan pendakiannya di Everest (8.848 mdpl) memalui jalur South East Ridge, maka Mahitala Unpar akan kembali mendaki puncak terakhir dalam rangkaian pendakian sirkuit the seven summits di Alaska yaitu Puncak Denali (6.194 mdpl). Denali adalah gunung terpenting untuk Mahitala Unpar. Dan apakah Mahitala Unpar bisa menyumbangkan ke empat pendakinya menjadi the seven summiter pertama bagi Bangsa Indonesia ? Semua akan dijawab pada pendakian Denali nanti.
Secara teknis pendakian di Denali akan mirip dengan pendakian di Vinson Massif yang pernah didaki oleh kita Desember 2010 silam. Kesamaan bentuk pendakian ini dapat diuraikan antara lain adalah sama-sama tidak menggunakan porter dan binatang pengangkut, sama-sama menggunakan sled (papan salju pengangkut barang) dan perjalanan dilakukan bolak-balik antar camp untuk mengangkut setengah jumlah barang dan setengah lagi akan diangkut pada hari berikutnya. Lalu apa yang menjadi perbedaan antara Vinson Massif dengan Denali ? Perbedaan terletak pada tingkat kesulitan jalur. Denali memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dan jalur yang lebih panjang dibanding dengan saudaranya di Kutub Selatan, Vinson Massif (walau memiliki suhu yang kurang lebih sama). Dengan panjangnya jalur maka logistik yang dibawa pada pendakian menuju Denali otomatis akan semain banyak dan beban yang dibawa juga akan semakin berat.
Beberapa pendaki internasional pernah diajukan pertanyaan,“Bila di ambil rata-rata manakah yang lebih sulit antara Denali dan Everest?” Mayoritas berkata bahwa Denali yang jauh lebih sulit. Di Denali para pendaki harus mendaki sendiri (dan membawa barangnya sendiri) tinggi vertikal sejauh 3.969 meter sedangkan di Everest pendaki hanya mendaki sejauh 3.548 meter ditambah dukungan penuh dari para sherpa.
Dengan tingkat kesulitan yang menghadang di depan mata, Mahitala Unpar tetap memiliki peluang yang besar untuk mencapai Puncak Denali. 4 pendaki ujung tombak Mahitala sudah memiliki jam terbang 6 pendakian gunung es di masing-masing benua. Kita tidak pelu khawatir bahwa mereka tidak mengerti perihal glacier walking, snow survival, creaverse rescue, dan segudang teknik lainnya yang dibutuhkan untuk menghadapi dasyatnya Denali di ujung peralihan musim dingin menuju musim panas. Tim Mahitala Unpar merupakan rombongan terakhir (tim ke 14) yang akan diberangkatkan Alpine Ascents International (AAI) dalam musim pendakian tahun 2011. Memang di ujung musim pendakian kali ini panas sudah mulai keluar dari sarangnya dan menyebabkan salju mulai mencair dan lubang-lubang jurang salju mulai merekah melebar. Tapi keuntungan lainnya adalah Tim Mahitala Unpar tidak usah repot-repot menggali lubang-lubang perlindungan dan menyusun balok-balok es untuk dijadikan sebuah wind wall karena semua sudah tersedia di sana bekas pendakian-pendakian sebelumnya.
Lalu bagaimana dengan segi fisik ke 4 pendaki kita? Pendaki kita sedang pada fisik yang sangat prima setelah mendaki Everest. Saat ini mereka masih menjaga kebugaran tubuh dengan jogging dan berenang 3 kali seminggu hingga menjelang keberangkatan mereka tanggal 18 Juni 2011. Menurut Hiroyuki Kuraoka (yang memiliki julukan internasional “Japanese Breathing Fire”) pendakian Tim Mahitala Unpar melalui jalur West Buttress memiliki tingkat keberhasilan yang sangat tinggi karena hal-hal yang ditulis di atas.
Tim berbendera kuning ini akan memulai pendakiannya dari South East Fork yang sering disebut sebagai Base Camp Denali di ketinggian 2.225 mdpl. SE Fork dapat dicapai dengan menggunakan pesawat tipe Fokker dari Talkeetna. Satu setengah hari penuh di base camp akan digunakan oleh tim Mahitala Unpar untuk melakukan packing ulang dan mengulang semua pengetahuan pendakian yang dibutuhkan selama 19 hari pendakian Denali. Dan tepat pada tanggal 25 Juni 2011 menurut perencanaan, langkah kaki pertama akan mulai dijejakkan di kawasan padang salju Kahiltna untuk membuka rangkaian pendakian tim Mahitala Unpar beraksi di Denali. Tim Mahitala Unpar akan membawa setengah dari seluruh logistik pendakian menuju Camp 1 di ketinggian 2.407 mdpl dan kembali lagi ke NW Fork untuk bermalam di sana. Baru esok harinya kita akan bergerak dengan setengah barang sisa kembali melintas padang salju Kalhitna menuju Camp 1 dan menggelar tenda lalu beristirahat penuh di sana. Pergerakan bolak-balik ini terus dilakukan dari Camp 2 (3.048 mdpl), Camp 3 (3.505 mdpl), Camp 4 (4.329 mdpl) dan Camp 5 atau high camp (5.242 mdpl). Sehingga bila tidak ada aral yang melintang maka dijadwalkan pada tanggal 8 Juli 2011, Bendera Mahitala telah genap 7 kali berkibar di 7 puncak dunia yang sekaligus menjadi saksi bisu bahwa organisasi ini telah berhasil menyumbangkan 4 pendakinya yang bergelar the seven summiter pertama bagi Indonesia. GOD SAVE MAHITALA !
No comments:
Post a Comment