
“ Wake up, Wake up …Summit Days, Go Ahead Today !”
Kalimat itulah yang turut membangunkan kami dari tidur nyenyak pada pukul 01.00. Kalimat tersebut keluar secara tegas dari mulut seorang Ang Dewa Sherpa, Manager Base Camp sekaligus koki kepala dari Agen Pendakian Mountain Experience (Monex) yang kami gunakan jasanya untuk mengantarkan 4 orang pendaki Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (ISSEMU) menuju Puncak Everest pada kesempatan kali ini. Ia menepuk-nepuk satu persatu tenda kuning Ian, Atan, Broery dan Frans. Base Camp Tim Support ISSEMU yang tak jauh jaraknya dari Base Camp Monex turut “bergetar” karenanya. Segera kami bangun dan langsung menggunakan sebagian pakaian penahan dingin untuk menuju ke Base Camp Monex mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Ya, Summit Days atau rangkaian pendakian akhir untuk menggapai Puncak Everest akan segera digelar dalam 5 hari ke depan. Sontak saja kami terkaget-kaget dengan keputusan yang mendadak ini karena semula tim ISSEMU dijadwalkan akan mencapai puncak pada tanggal 16 – 17 Mei 2011. Itu berarti seharusnya para pendaki baru akan meninggalkan Everest Base Camp (EBC) pada tanggal 12 Mei 2011 dan seharusnya mereka memiliki jatah rest day 2 hari lagi. Ternyata ini adalah sebuah keputusan mutlak dari seorang Russel Brice, pimpinan tertinggi dari Agen Perjalanan Monex dan Himalayan Experience (Himex). Russel Brice adalah seorang Expedition Leader yang mempunyai segudang talenta mengatur pendakian Everest. Dari catatan yang berhasil dikumpulkan, ia berhasil memimpin belasan ekspedisi pendakian Everest dengan tingkat resiko zero death dan 99% berhasil, sehingga ia dijuluki “dewa gunung” oleh para sherpa. Big bos, panggilan akrab Russel oleh para sherpa, menyampaikan bahwa dari ramalan cuaca yang ia dapatkan dengan harga yang cukup mahal di Swiss, cuaca cerah akan menyelimuti puncak Everest dan kawasannya pada tanggal 13-14 Mei 2011 dan akan memburuk pada tanggal 24 Mei 2011. Keputusan cepat ini sangat mengagetkan 4 pendaki ISSEMU dan kami semua. Tetapi keputusan sudah bulat dan harus segera dilaksanakan. Dan kami sungguh menyadari bahwa inilah saat di mana kami (tim support) akan segera masuk ke dalam zona kurang tidur, menahan napas, bulu kuduk berdiri dan seluruh rasa was-was yang pastinya akan menjadi makanan kami setiap jamnya untuk 5-6 hari ke depan.
Setelah keputusan itu disampaikan, segera saja latihan kilat penggunaan masker oksigen dilakukan di dalam dining tent yang kerap berfungsi sebagai tenda makan dan rapat di area Base Camp Monex. Latihan ini dipimpin langsung oleh Hiroyuki Kuraoka, mountain guide dan sekaligus konsultan tim ISSEMU. Para climbing sherpa juga turut membantu latihan singkat ini. Setiap pendaki mencoba memasang dan mengaktifkan satu per satu regulator atau masker oksigen (tentu saja mereka juga dibekali masker oksigen cadangan untuk berjaga-jaga bila masker oksigen utama membeku di ketinggian 8.000 mdpl yang suhunya akan mencapai -20 derajat Celsius).
Kami berenam yang tergabung dalam Tim Support EBC ISSEMU sungguh sangat beruntung menyaksikan momen-momen krusial pendakian Everest seperti ini. Kami yang tiba di EBC 1 hari lebih cepat dari rencana perjalanan sampai terbingung-bingung apa yang harus kami bantu untuk meringankan persiapan mereka yang “rasanya kok seperti dikejar waktu.” Tetapi tampaknya Hiro seperti sudah menata dengan baik seluruh mental 4 pendaki kita ini. Dari cerita proses aklimatisasi sebelumnya, ia dengan tegas dan juga lugas menanamkan nilai pendakian Everest yang harus dicamkan oleh ke 4 summiters kita termasuk bila ada panggilan mendadak untuk segera menggelar rangkaian summit days. Jadi tak heran, walaupun dengan mimik yang tersirat tegang oleh kami, mereka dapat dengan terbiasa mempersiapkan barang-barang pendakian dengan sangat baik.
Dan Akhirnya Langkah Kaki Pertama Terjejak Meninggalkan EBC
Sulit untuk menggambarkan kejadian yang terjadi subuh itu ketika hujan es ringan, langit berbintang ditambah cuaca yang tidak biasanya hangat. Perlahan bayangan barisan yang sedikit panjang itu semakin kecil dan akhirnya semakin mengecil, hanya meninggalkan titik kecil putih cahaya senter kepala yang bergerak ke sana ke mari, kadang hilang dan kadang muncul lagi. Sambil diiringi teriakan semangat dan lantunan lagu dari para sherpa pendukung EBC, rasa bangga dan haru berdentum begitu keras pada dada kami. Rasa sesak yang tertahan itu akhirnya menyeruak keluar dan bertranformasi menjadi genangan air mata takala sayup-sayup terdengar Hymne Mahitala dilantunkan pelan sekali oleh seseorang diantara kami.
Kami sangat tau bahwa di depan sana tantangan-tantangan silih berganti menghadang mereka. Dalam balutan langit berbintang ini mereka harus dengan cepat menembus labirin es dan tangga-tangga yang sudah dipersiapkan oleh icefall doctor, sebutan untuk para sherpa yang membuka jalur Khumbu Ice Fall pertama kali di musim pendakian Everest. Buat beberapa kalangan berjalan di Khumbu Ice Fall bagaikan tengah bermain maut ala Russian Roulete. Kita tidak dapat memprediksi secara jelas, kapan bongkahan-bongkahan es sebesar truk di dinding selatan Everest akan jatuh menimbun hidup-hidup semua yang ada dibawahnya. Para pendaki hanya dapat mengurangi tingkat bahayanya dengan berjalan melewati Khumbu Ice Fall ketika terik matahari belum menyinari bagian-bagian dinding yang esanya banyak sesak menggantung itu. Bila terik matahari sudah menyinari bongkahan tersebut, lelehan salju akan terjadi dan besar kemungkinan akan meruntuhkan bogkahan-bongkahan tersebut. Kejadian seperti ini sering disebut sebagai avalance atau longsor salju. Di Everest region sendiri avalance terjadi 45 menit sekali.
Lepas dari Khumbu Ice Fall mereka akan tiba di Camp 1 di ketinggian 6.100 mdpl (Frans dan Ian akan bermalam di sini) lalu Camp 2 di awal Lhotse Wall di ketinggian 6.462 mdpl (Broery, Atan dan Hiro akan bermalam di sini). Camp 2 kami malam sebelumnya hancur akibat diserang oleh angin kencang yang ternyata mampu menerbangkan kitchen tent kami. Beruntung karena ketangguhan seorang high altitude chef akhirnya efek dari musibah itu berhasil dihadapi. Ia dengan keuletannya mengumpulkan barang-barang yang tercecer entah ke mana karena tertiup angin kencang dan bahkan harus berjalan beratus-ratus meter untuk memungutnya satu persatu. Tantangan sebenarnya dari pendakian Everest akan ditemui setelah pendaki tiba di Camp 3 di ketinggian 7.300 mdpl. Pendaki harus terbiasa tidur “sedikit” tidak nyaman karena tenda obstacle didirikan di kemiringan Lhotse Face. Naik sedikit di ketinggian 7.900 mdpl kita akan segera bertemu dengan Camp 4 atau South Col yang dicapai dengan menggunakan teknik traversing. Dan di sini tantangan pendakian benar-benar tampak nyata. Dengan memasuki South Col maka tibalah kita pada pintu masuk ke daerah kerap disebut Death Zone. South Col adalah ambang batas ketinggian di mana manusia bisa hidup dan di sini pula tumpukan-tumpukan tabung oksigen menunggu untuk digunakan pada zona 8.000-an. Dari South Col pulalah summit attack akan dilakukan pada tengah malam nanti. The Balcony di ketinggian 8.400 mdpl akan menjadi lokasi selamat datang di zona kematian. The Balcony ditandai dengan undakan kecil untuk beristirahat di mana kita dapat menatap puncak-puncak gunung di sisi selatan dan timur dalam awal terang fajar. Melanjutkan pendakian selepas dari The Balcony meniti punggungan yang lebih tinggi, pendaki akan segera bertemu dengan medan di mana rangkaian bebatuan yang tidak beraturan akan membuat para pendaki berjalan sedikit mengarah ke timur ke arah salju setebal pinggang. Pada ketinggian 8.750 mdpl kita akan menemui sebuah es yang menyerupai kubah meja seukuran tenda dome kecil yang menandai tibanya kita di South Summit. Lalu di 8.760 mpl kita akan meniti sebuah punggungan setipis dan setajam es di mana bila kita jatuh ke kiri kita akan segera mendarat di kedalaman 2.400 meter dan kanan mengaga sebuah jurang dengan kedalaman 3.050 meter. Punggungan ini kerap disebut dengan sebutan Hillary Step. Hillary Step adalah tantangan terakhir sebelum akhirnya kita bertemu dan berkenalan dengan Qomolungma untuk pertama kalinya di ketinggian 8.848 mdpl.
Saat ini kami tengah berada dalam kehangatan dan kenyamanan Everest Base Camp, saling bergantian berjaga malam untuk memantau dengan serius perkembangan pergerakan para pendaki ISSEMU melalui Handy Talkie milik Sofyan dan Hiro. Kami seakan dapat merasakan langkah perlangkah kaki yang menapaki es yang tentunya akan semakin tinggi tiap harinya. Di jejak-jejak kaki itulah yang nantinya akan semakin menguatkan keyakinan kami semua, bahwa lewat tangan merekalah Bendera Kuning Mahitala akan berkibar dan menari dengan lincahnya dengan Malaikat-Malaikat Pelindung Mahitala di ketinggian tertinggi di 8.848 mdpl.
Semoga Tuhan merestui.....
10 mei 2011, 05:30 Nepal Time
Tim Support EBC
Mahitala Unpar
No comments:
Post a Comment