StatCount

15 November 2009

Colonel Fransiskus Heronimo Sancoyo

Fransiskus Heronimo Sancoyo adalah seorang anggota Mahitala Unpar dengan angkatan Hujan Konyal. Sejak dulu bahkan sebelum terjadinya SAR Operation Religh yang memakan korban 2 orang peserta berwarganegara asing. Almarhum aktif dalam operasi SAR orang hilang di Gunung Salak, Gunung Gede (SAR Surya Ibrahim), SAR Citarum (KMPA ITB), SAR Aceh, dan berbagai operasi SAR lain yang mungkin harus saya kumpulkan satu persatu datanya lewat wawancara dengan rekan-rekan Mahitala. Kedekatannya dengan kami, saudara-saudaranya, memberikan kesan yang sangat mendalam. Orang yang humoris dan gemar tersenyum dengan pipinya yang cukup tembem. Dan amukannya yang pasti akan membuat dinding sekretariat terasa "terguncang" cukup hebat bahkan dalam hati kami semua. Salah satu yang masih melekat dalam otak dan pikiran saya ketika Vinsensius Suryadinata resmi dinyatakan sebagai survivor dan saya juga telah mendapat restu dari Ketua Dewan Pengurus Mahitala Unpar untuk membuka SAR ini menjadi SAR skala nasional dengan segala macam bentuk konsekuensi dan akibat yang akan timbul. Fransiskus Heronimo Sancoyo atau yang akrab dipanggil dengan Sancosh adalah anggota lama yang saya hubungi pertama kali mengenai hal gawat darurat ini. Kira-kira demikian percakapan yang saya lakukan bersama almarhun via telp :

Cilot : "Halo, Sancosh...ini gue Cilot"

Sancosh : "Woi, Lot....apa kabar ? Apa yang bisa gue bantu ? (tipikal senior sigap yang siap menerima instruksi dari Mahitala)

Cilot : "Vinsent hilang di Argopuro, udah lewat dari 3 hari dan Ketua DP akan membuka SAR ini menjadi SAR Nasional."

Sancosh : " Gimana kronologis sementara ? PTKT (Point Terakhir Korban Terlihat) di mana ?

Cilot : "Dari informasi yang gue kumpulkan, Vinsent mendaki solo (sendiri) dan naik tgl 21 Jan 2006, 21-23 Jan 2009 masih sms-an sama gue, tgl 25 Jan 2009 ranselnya terlihat di shelter Cisentor sama pendaki. PTKT di Posko KSDA (Konservasi dan Sumber Daya Alam) di Baderan.

Sancosh : "Posisi lu sekarang sebagai apa ?"

Cilot : "Gue sementara ini menghandle SMC (SAR Mission Coordinator) sampai struktur SAR terbentuk di lapangan"

Sancosh : "Ok...gue akan secepatnya prepare barang-barang dan merapat ke lokasi. Lu mau gue sebagai apa ? Dan siapa M yang akan menyusl ke sana ?"

Cilot : "Lu akan ditunjuk sebagai SMC dan yang menyusul Mario, Andri dan Deddy dari Bandung. Paul dan Bowo dari Surabaya"

Sancosh : "Apa tugas mereka dan apa statusnya saat ini ?"

Cilot : " Kumpulin info di Bremi (Vinsent rencananya akan turun menuju desa ini) dan memastikan ransel itu ada di sana. Kalau ransel ada di sana sudah pasti SIAGA I, saat ini status masih SIAGA 3"

Sancosh : "SIAP...!! Gue akan kabarkan perkembangan secepatnya. Solo Bandung !(sebuah istilah dalam radio komunikasi yang dapat diartikan dengan standby)"

OK, seorang dedengkot SAR Mahitala ikut bergabung dalam operasi pencarian Vinsent. Tidak lama setelah percakapan gue dengan Sancoh tadi, tiba-tiba saja sms gue berbunyi. Ada nama Sancosh di sana. Begini bunyi sms nya :

"USS Eisenhower has launched Colonel FH. Sancoyo to approach the target. ETA (Estimated Time Arrived) : twenty two hundred"

Dengan diterimanya sms ini saya telah menentukan bahwa inilah saatnya "genderang perang ditabuh." Inilah saatnya pertempuran yang sebenarnya to rescue private Vinsent ALIVE...no matter how and what it cost !!!

Rest In Peace Colonel...

Solo Bandung,
M 2000511 ATSA

No comments: