
Banyak cara yang dapat ditempuh oleh sebuah negara dalam mengatasi pemberontakan. Misalnya saja Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan Kasus Timor Timur (sekarang : Timur Leste). Banyak cara yang dapat ditempuh oleh negara kita tercinta Indonesia. Misalnya saja memerangi mereka, membantai habis pimpinan hingga antek-anteknya dan sampai berujung ke model rapat-rapatan di Helsinsky. Dan yang terakhir adalah cara menarik yang buat saya menggeleng-gelengkan kepala adalah melepasnya begitu saja. "Biar ga pusing atau ga makan biaya dan korban", katanya.
Tapi menurut saya pribadi cara yang paling ampuh adalah dengan menerima mereka dengan hati terbuka. Menerima mereka apa adanya. Seperti dikutip dalam buku karangan Ajahn Brahm yang sedang saya baca, "Apapun yang kamu lakukan, pintu rumahku selalu terbuka untukmu." yang dapat diartikan dengan "Apapun yang kamu lakukan atau terjadi pada dirimu, pintu hatiku akan selalu siap menerimamu." Itulah makna dari cinta sejati. Cinta sebuah negara kepada rakyatnya, cinta seorang orangtua kepada anaknya, cinta sepasang suami istri, dan mungkin yang lebih mengena untuk saya saat ini, cinta saya kepada seorang wanita.
Kita kembali ke permasalahan penaganan pemberontakan suatu negara. Kita dapat berkaca pada Mungkin kita semua pernah mendengar atau menduga-duga apakah dan mengapa Thailand merubah sistem pemerintahan yang tadinya kerajaan menjadi komunis ? Saya pernah menduga dengan kondisi Thailand waktu itu, memang tidak mungkin Thailand akan menjadi salah satu basis komunis di Asia ini. Tapi nyatanya tidak. Thailand sendiri sangat apik dalam menangani permasalahan pemberontakan yang diakali oleh para kaum komunis di negaranya. Banyak sekali bibit-bibit penerus bangsa merubah haluan menjadi simpatisan komunis dan berjuang demi komunis. Buruh dan petani pun begitu. Mungkin kalau di Amerika sana tangkap dalangnya dengan "operasi militer bertajuk sangat khusus" dan di Indonesia sendiri dengan "gerakan sunyi-senyap" yang bahkan tidak tercium oleh siapapun. Thailand begitu memperhatikan rakyatnya. Bahkan persembunyian militant-militan komunis sudah diketahui, Thailand sama sekali tidak menyerangnya dengan "operasi militer bertajuk sangat khusus" atau "gerakan sunyi-senyap". Thailand mengumumkan sebuah PENGAMPUNAN TANPA SYARAT kepada setiap pribadi yang terlibat dalam organisasi melawan negara tersebut. Mahasiswa dipersilahkan meletakkan senjata dan kembali ke kampusnya tanpa dihukum, begitu juga para petani dan buruh. Yang kedua adalah MEMPERBAIKI SUMBER MASALAH YANG ADA. Thailand dengan cepat tanggap memperbaiki segala macam infrastuktur dalam negeri demi kenyamanan dan ketentraman bangsa. Jalan-jalan diaspal, irigasi ditingkatkan, bendungan-bendungan dibangun. Dengan demikian para petani dapat panen 2 kali lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Semua fasilitas dibangun dengan sempurna. Rumah-rumah, balai-balai kesehatan, sekolah-sekolah dan masih banyak lagi. Dan yang lebih hebat lagi adalah SISITEM KEPERCAYAAN YANG DIBANGUN. Thailand tidak begitu saja menelantarkan atau mengasingkan para oknum-oknum komunis tersebut. Beberapa diantaranya ditarik untuk menduduki jabatan penting dan strategis dalam pemerintahan.
Ada sesumbar yang manarik di Thailand pada tahun 80an ketika masalah ini berkecamuk. Seorang tentara Thailand bercerita bahwa dengan menunjukan arloji baru dan radio baru yang memutar lagu-lagu Thailand, dia bisa mengajak seorang petani untuk berhenti menjadi komunis.
Bisa saja ini salah satu jalan pemecahan untuk krisis di negara ini. Di mana bom-bom meledak layaknya petasan di hari Lebaran, gerakan-gerakan sporadis yang muncul bagai cendawan di musim hujan. Demi Indonesia Mereka yang kita cintai. Mereka sama sekali bukan penjahat, mereka hanya melakukan hal-hal yang jahat saja. Simpel kok……!
Terinspirasi dari buku "Cacing dan kotoran kesayangannya" karya Ajahn Brahm
Tapi menurut saya pribadi cara yang paling ampuh adalah dengan menerima mereka dengan hati terbuka. Menerima mereka apa adanya. Seperti dikutip dalam buku karangan Ajahn Brahm yang sedang saya baca, "Apapun yang kamu lakukan, pintu rumahku selalu terbuka untukmu." yang dapat diartikan dengan "Apapun yang kamu lakukan atau terjadi pada dirimu, pintu hatiku akan selalu siap menerimamu." Itulah makna dari cinta sejati. Cinta sebuah negara kepada rakyatnya, cinta seorang orangtua kepada anaknya, cinta sepasang suami istri, dan mungkin yang lebih mengena untuk saya saat ini, cinta saya kepada seorang wanita.
Kita kembali ke permasalahan penaganan pemberontakan suatu negara. Kita dapat berkaca pada Mungkin kita semua pernah mendengar atau menduga-duga apakah dan mengapa Thailand merubah sistem pemerintahan yang tadinya kerajaan menjadi komunis ? Saya pernah menduga dengan kondisi Thailand waktu itu, memang tidak mungkin Thailand akan menjadi salah satu basis komunis di Asia ini. Tapi nyatanya tidak. Thailand sendiri sangat apik dalam menangani permasalahan pemberontakan yang diakali oleh para kaum komunis di negaranya. Banyak sekali bibit-bibit penerus bangsa merubah haluan menjadi simpatisan komunis dan berjuang demi komunis. Buruh dan petani pun begitu. Mungkin kalau di Amerika sana tangkap dalangnya dengan "operasi militer bertajuk sangat khusus" dan di Indonesia sendiri dengan "gerakan sunyi-senyap" yang bahkan tidak tercium oleh siapapun. Thailand begitu memperhatikan rakyatnya. Bahkan persembunyian militant-militan komunis sudah diketahui, Thailand sama sekali tidak menyerangnya dengan "operasi militer bertajuk sangat khusus" atau "gerakan sunyi-senyap". Thailand mengumumkan sebuah PENGAMPUNAN TANPA SYARAT kepada setiap pribadi yang terlibat dalam organisasi melawan negara tersebut. Mahasiswa dipersilahkan meletakkan senjata dan kembali ke kampusnya tanpa dihukum, begitu juga para petani dan buruh. Yang kedua adalah MEMPERBAIKI SUMBER MASALAH YANG ADA. Thailand dengan cepat tanggap memperbaiki segala macam infrastuktur dalam negeri demi kenyamanan dan ketentraman bangsa. Jalan-jalan diaspal, irigasi ditingkatkan, bendungan-bendungan dibangun. Dengan demikian para petani dapat panen 2 kali lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Semua fasilitas dibangun dengan sempurna. Rumah-rumah, balai-balai kesehatan, sekolah-sekolah dan masih banyak lagi. Dan yang lebih hebat lagi adalah SISITEM KEPERCAYAAN YANG DIBANGUN. Thailand tidak begitu saja menelantarkan atau mengasingkan para oknum-oknum komunis tersebut. Beberapa diantaranya ditarik untuk menduduki jabatan penting dan strategis dalam pemerintahan.
Ada sesumbar yang manarik di Thailand pada tahun 80an ketika masalah ini berkecamuk. Seorang tentara Thailand bercerita bahwa dengan menunjukan arloji baru dan radio baru yang memutar lagu-lagu Thailand, dia bisa mengajak seorang petani untuk berhenti menjadi komunis.
Bisa saja ini salah satu jalan pemecahan untuk krisis di negara ini. Di mana bom-bom meledak layaknya petasan di hari Lebaran, gerakan-gerakan sporadis yang muncul bagai cendawan di musim hujan. Demi Indonesia Mereka yang kita cintai. Mereka sama sekali bukan penjahat, mereka hanya melakukan hal-hal yang jahat saja. Simpel kok……!
Terinspirasi dari buku "Cacing dan kotoran kesayangannya" karya Ajahn Brahm
1 comment:
membaca seluruh blog, cukup bagus
Post a Comment