Sore ini, seorang staf di kantor menyapa saya sambil menyerahkan 2 lembar kertas fax. "Sore, Pak. Ini ada PO dari Perusahaan X." Saya mengambilnya dengan antusias. Perusahaan X adalah sebuah perusahaan Jepang yang bergerak di bidang automotive. Sudah 2 tahun belakangan ini saya berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan project dari perusahaan ini. Walau memang kira-kira 1/2 tahun yang lalu saya berhasil meng-gol-kan penjualan ke Perusahaan X dan omset yang didapatkan dari Perusahaan X semakin hari semakin meningkat. Tapi kali ini tampaknya berbeda...
Saya kembali duduk di meja saya sambil menyeruput segelas kopi panas yang baru saya buat sendiri untuk menyegarkan isi kepala di sore itu. Sambil mennikmati kopi tersebut, saya melihat 2 lembar Purchase Order yang ada di tangan saya. "GLEK!" Saya hampir tersedak melihat angka yang tertera di dua lembar kertas tersebut. Rp 438.052.000,00. Angka yang sangat fantastis untuk saya. Tampaknya produksi Honda dan Daihatsu sedang meningkat bulan ini. Ramalan saya, angka tersebut akan meningkat di bulan-bulan berikutnya. Segera saya membuka file di laptop dan langsung asik mengerjakan Form Production Order untuk segera memberikan instruksi kepada pabrik untuk segera memproduksi pesanan esok hari.
Setelah administrasi kelar, saya segera beranjak dari meja kerja saya dengan segelas kopi yang masih hangat dan sebungkus rokok untuk menikmati hasil jerih payah ini. Di ruang merokok (lebih tepat ruang tunggu tamu yang jarang digunakan) saya tiba-tiba meresakan sebuah perasaan aneh. Perasaan yang belum pernah saya temukan sebelumnya. Saya tiba-tiba saja menjadi muram atas apa yang saya lakukan barusan. Karir di perusahaan ini saya mulai ketika berhasil menjual produk dengan angka Rp 2.500.000,00 per bulan. Dan setelah sekian lama waktu berjalan, saya menengok laporan penjualan yang saya bukukan di data akunting, angka tersebut sudah berubah menjadi Rp 1.000.000.000,00. Di satu sisi saya bangga dengan hasil jerih payah yang saya lakukan untuk perusahaan ini. Tapi di sisi lain, saya tampaknya biasa saja, cenderung kecewa mungkin...
Otak saya kembali berpikir dan bekerja. Tampaknya saya harus memulai untuk memutuskan sesuatu. Sesuatu yang selama ini saya takuti. Memiliki usaha sendiri!
Ini hanya hitung-hitungan di atas sebuah logika sederhana saja. Kalau saja saya memiliki usaha sendiri dan saya bekerja dengan kualitas yang sama, seharusnya saya bisa mendapatkan hasil sekedar dari gaji bulanan saja. Menjadi seorang karyawan itu bagus, tetapi buat saya sekarang ini, itu hanyalah solusi untuk mendapatkan rasa aman dan nyaman. Seorang teman kuliah pernah berkata seperti ini, " Yang namanya kacung kecil bisa jadi kacung besar. Dan yang namanya bos kecil juga bisa jadi bos besar. Tapi akan sangat tidak mungkin seorang kacung besar menjadi bos kecil." Saya baru mengerti perkataanya saat ini. Jadi mudah-mudahan saja apa yang saya alami adalah sebuah petunjuk bahwa saya harus mulai menghargai setiap usaha yang saya keluarkan. Dan mulai memikirkan sebuah titel baru di dalam hidup saya...WIRASWASTA!
Untuk teman-teman saya yang telah memiliki usaha sendiri, baik itu mulai berkembang atau kecil sekalipun. Saya salut dengan kalian dengan berani untuk menghargai jerih payah pribadi untuk berkembang. Semoga sukses terus dan jangan pernah berhenti berusaha. Terima kasih untuk selalu menginspirasi...
No comments:
Post a Comment