Sudah tiga hari ini kurang tidur. Selalu saja terbangun antara pukul 3 atau 4 subuh. Dan setelah itu tidak bisa tidur lagi sampai pagi. Tapi subuh ini terbangun dengan kondisi yang berbeda. Sulit digambarkan tapi memang berbeda dari biasanya. Hari ini terbangun dan langsung dicecar oleh pertanyaan dalam hati, "Apa yang salah ya? Salahnya di mana? Kenapa bisa salah? Bagaimana cara memperbaikinya?" Tidak ada dalam pikiran saya subuh tadi kata-kata "Siapa yang salah?"
Saya cukup tertegun dengan hal ini. Dan sampai sekarang saya mencoba merenungkan hal ini. Mencoba berfikir kembali tentang apa yang terjadi beberapa hari ke belakang. Salah paham? Kurang komunikasi? Emosional sesaat? Yang jelas memang saya sudah terlanjur mengeluarkan kata-kata yang pasti menyakitkan hati, mengecewakan ataupun sejenis dengan itu.
Mungkin saya terlalu berharap banyak mengenai perubahan yang sesuai dengan kehendak saya. Saya mungkin lupa bahwa yang namanya karakter harus butuh usaha besar untuk merubahnya, dan niat saja tidak cukup untuk itu. Harus ada support yang baik dari salah satu pihak. Dia dan saya seharusnya saling mendukung untuk berubah menjadi lebih baik bagi kehidupan bersama di depannya. Mungkin seharusnya begitu.
Mungkin ini sudah telat. Tapi apapun itu, saya berusaha untuk belajar dari hal-hal tersebut. Tidak berusaha mencari siapa yang salah, karena saya yakin saya ataupun dia punya andil yang sama untuk hal ini. Saya tidak mau mencari pembenaran untuk diri saya sendiri dan tidak mau menimbang-nimbang tingkat kesalahan yang telah saya ataupun dia buat. Saat ini saya bersyukur masih dapat menikmati rasa sakit dan menjalankannya sebagai konsekuensi atas apa yang sudah saya lakukan. Saya akan menerima semua itu dan berharap apapun yang telah terjadi akan menjadikan saya menjadi lebih baik dalam menjalankan hidup di depannya.
Saya percaya dengan takdir, dan saya juga percaya apa yang telah direncanakan oleh Tuhan. Kalaupun nantinya Tuhan memberikan saya kesempatan untuk bersama-sama lagi dengan dia, ini berarti Tuhan ingin kami tetap saling belajar dan saling mendukung satu sama lain untuk kebahagiaan yang memang kita berdua harapkan.
Saat ini saya menyadari bahwa tidak ada gunanya menebar hawa negatif. Tidak ada gunanya menekan seseorang dengan cara apapun untuk membuat dirinya semakin menderita. Beberapa kalimat di Instagram sudah terlanjur saya posting dan ini tidak baik untuk apapun juga. Saya jadi berfikir, "Buat apa saya memposting tulisan-tulisan itu ya?" Tidak ada gunanya. Saya akan mencoba menghapus postingan-postingan tersebut, minimal membuat saya bisa berfikir positif dan berusaha tidak menebar hawa negatif ke sekeliling saya.
Pagi ini, saya membaca tulisan yang cukup menarik di detik.com : http://wolipop.detik.com/read/2014/04/30/073343/2569334/854/perhatikan-ini-kunci-pernikahan-harmonis-walau-beda-prinsip-dengan-pasangan?991104topnews . Tulisan ini cukup bagus dan saya baca berulang-ulang.
Have a nice day!
==============================
Perhatikan!
Ini Kunci Pernikahan Harmonis Walau Beda Prinsip dengan Pasangan
Tidak sedikit pasangan
pengantin merasakan kehidupan cinta mereka menjadi berbeda dibandingkan masa
pacaran. Perbedaan prinsip yang dulu sebenarnya sudah ada namun tidak menjadi
masalah, kini setelah menikah dan hidup bersama berubah menjadi isu besar. Hal
ini pun membuat pasangan jadi kerap bertengkar. Apakah Anda merasakannya? Ini
saran dari psikolog agar pernikahan tetap harmonis walaupun Anda dan suami
berbeda prinsip.
Psikolog Ratih Ibrahim mengatakan memang bukan hal yang mudah untuk menyatukan
perbedaan. Apalagi kalau perbedaan tersebut menyangkut kebiasaan dan prinsip.
Meski demikian bukan berarti dengan adanya perbedaan itu pasangan lantas
menjadi tidak cocok. Justru yang harus diingat pasangan adalah bukan bagaimana
menyatukan perbedaan itu karena menurut Ratih tidak mungkin perbedaan tersebut
dapat disatukan.
"Kata kuncinya adalah pada respect, menghargai dan menerima perbedaan yang
ada termasuk perbedaan dalam kebiasaan, budaya, pola asuh dan prinsip,"
ujar Ratih yang merupakan pimpinan di PT Personal Growth tersebut dalam
konsultasi cintanya kepada pembawa Wolipop.
Dengan menghargai dan menerima perbedaan, pasangan akan merasakan kehidupan
pernikahannya menjadi lebih tenang. "Terdapat saling pemahaman dan
pengertian di dalamnya," tambah Ratih.
Ketika sudah menerima perbedaan tersebut, tidak ada lagi harapan atau
ekspektasi terlalu berlebihan terhadap pasangan. Suami atau istri tidak lagi
berharap pasangannya mengubah kebiasaan, cara berpikir dan hal-hal lain yang
sebenarnya bukan dirinya.
Jika saat pacaran Anda sudah menyadari adanya perbedaan prinsip dan kebiasaan
dengan pasangan ini, sebaiknya jangan terlalu berekspektasi si dia akan berubah
setelah menikah. Harapan untuk berubah justru akan menyebabkan kekecewaan.
Apalagi kalau ternyata setelah menikah pasangan tidak berubah atau mengubah
dirinya seperti yang Anda inginkan.
"Kenyataannya berubah itu bukanlah hal yang mudah bahkan bagi diri sendiri
yang sudah memiliki keinginan dan kesadaran untuk berubah sekalipun, perubahan
itu tidaklah mudah. Oleh karena itu akan lebih menyenangkan bila kita dengan
sadar menjalani pernikahan dengan penerimaan sepenuhnya terhadap diri pasangan,"
urai Ratih. (eny/eny)
No comments:
Post a Comment