StatCount

05 August 2013

Budaya Mudik, Sebuah Event Skala Nasional Yang Unik

Pagi ini, seperti biasa saya mengedarai skuter menuju kantor yang memang jadwal liburnya sedikit berdeda dibanding dengan kantor-kantor lain. Hari ini saya mendapatkan sebuah perjalanan 20 menit yang cukup menyenangkan. Di hari-hari biasanya, perjalanan dari rumah ke kantor bisa ditempuh dengan waku sekitar 30-45 menit. Jalan mulai sedikit lowong, tetapi beberapa titik-titik kepadatan mulai berpindah ke sekitar pom bensin, pasar-pasar dan beberapa pusat perbelanjaan.

Mudik adalah sebuah kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat menjelang perayaan Idul Fitri yang kali ini akan dirayakan pada tanggal 8-9 Agustus 2013. Bisanya masyarakat yang selama setahun ini tinggal di perkotaan akan berbondong-bondong kembali ke desa tempat mereka berasal. Mencari nafkah di kota besar dirasakan sebagai sebuah solusi yang cemerlang untuk mendapatkan penghasilan yang lebih layak dibandingkan harus bekerja di tempat asal mereka. Dan oleh sebab itulah maka inilah yang menjadi alasan mengapa mulai dari tanggal 3-7 Agustus 2013, seluruh jalan penghubung kota ataupun provinsi di pulau Jawa akan sangat padat.

Fenomena ini juga saya rasakan buat saya yang bekerja di perbatasan antara Kabupaten Bandung dengan Kabupaten Sumedang. Lokasi kantor tempat saya bekerja adalah jalan raya utama yang akan menghubungkan kota-kota Jawa Barat dengan Jawa tengan di sisi selatan Jawa. Dan karena itulah pagi ini saya merasakan sebuah fenomena-fenomena perubahan arus lalulintas dan kondisi yang berbeda dari biasanya. Kendaraan-kendaraan mulai memadati jalan-jalan penghubung tersebut. Di antara semua kendaraan yang ada, saya dapat membedakan dengan mudah, mana kendaraan yang sebenarnya beraktifitas seperti di hari-hari biasanya dan mana kendaraan yang digunakan untuk mudik. Untuk sepeda motor, apabila anda melihat sebuah sepeda motor yang dilengkapi dengan kardus, dimuat oleh 3 orang (lelaki, perempuan dan anak), membawa tas ransel ataupun travelbag yang besar, berbondong-bondong, hingga berpakaian lengkap (helm, jaket, sarung tangan, penutup mulut) maka anda boleh mengambil kesimpulan bahwa ini adalah pemudik yang menggunakan sepeda motor. Sepeda motor memang sudah digunakan untuk mudik sebagai salah satu solusi yang cukup nekat. Dengan jarak yang demikian jauh (Jawa Barat - Jawa Tengah), pemudik sepeda motor akan menghadapi serangkaian bahaya di depan sana selama prosesnya kembali menuju kampung halaman. Belum lagi stamina yang dibutuhkan oleh pemudik jenis ini dan meningkatnya jumlah kapasitas kendaraan yang tentu saja, jumlah jalan raya tidak akan muat menampung "aliran bah" kendaraan menuju kampung tercinta.

Lalu bagaimana dengan mobil? Apabila anda melihat sebuah minibus ataupun suv dengan barang-barang yang ditutup terpal di atas atap mobil, sudah bisa dipastikan bahwa di dalam mobil tersebut adalah pemudik. Menggunakan mobil pribadi untuk mudik memang lebih nyaman dibanding dengan kendaraan bermotor. Tetapi, tingkat kesabaran yang dimiliki oleh pemudik mobil pribadi harus dua kali lipat dibanding kesabaran untuk menghadapi kemacetan Kota Jakarta. Kemacetan jalur mudik lebaran akan sangat tinggi. Jarak antara Bandung ke Jogjakarta yang biasanya dapat ditempuh selama 5-8 jam, mungkin harus ditempuh dalam 1-2 hari. Untuk jalur selatan, titik terparah yang akan dijumpai oleh para pemudik adalah Nagrek. Nagrek terletak sekitar 30 menit dari kantor saya. Tetapi dengan kondisi seperti ini, mungkin saya bisa sampai ke Nagrek sekitar 2-3 jam. Dan untuk menembus kemacetan Nagrek, mungkin bisa menghabiskan waktu sekitar 2-3 jam lagi.

Fenomena unik lainnya yang saya lihat adalah, mulai bermunculan mobil-mobil relay dari beberapa stasiun televisi di simpang Cileunyi. Beberapa hari yang lalu, kameramen dan reporter sudah mulai aksinya untuk melaporkan perkembangan jalur mudik sisi selatan. Pedangang-pedagang liar mulai bermunculan di bahu-bahu jalan. Apabila ada sebuah bahu jalan yang tadinya kosong, maka saat ini akan berjejer penuh pedagang-pedagang dadakan yang menjajakan berbagai macam kebutuhan yang dirasa perlu untuk melengkapi perjalanan menuju tanah kelahiran. Posko-posko partai politik juga bermunculan di lokasi-lokasi strategis. Hingga saat ini saya masih tidak tau apa fungsi posko-posko tersebut. Apakah isinya adalah tempat beristirahat sementara untuk para pemudik, tempat pengobatan ringan yang bersifat darurat atau memang hanya sebagai media iklan yang sebenarnya di dalam posko itu hanya terdapat 1 buah meja dan 2 buah bangku lipat? Dan yang terakhir adalah munculnya pos-pos polisi yang terlihat mencolok di tempat-tempat startegis misalnya persimpangan jalan. Para pramuka juga turut terlihat dengan peralatan lengkap seperti bendera dan pluit untuk membantu para pak polisi melancarkan arus lalu lintas yang sedang dalam proses membludak dibanding hari-hari biasanya.

Selamat mudik, hati-hati di jalan, perhatikan keselamatan, jangan bawa teman-teman baru bekerja di kota besar dan Selamat Hari Raya Idul Fitri!

Salam,
CTRKTH

No comments: