Manusia itu diciptakan dengan akal budi yang sangat tinggi melebihi apapun di dunia ini (go to hell with the UFO cospiracy !). Dan sudah sepantasnyalah pula setiap manusia memiliki kehendak dan keinginan yang mereka pikirkan akibat tingginya tingkat berfikir manusia. Setiap manusia pasti memiliki will atau kehendak. Kehendak untuk melakukan segala sesuatu yang kita inginkan, yang kita harapkan terjadi dan mungkin saja yang kita kira akan terjadi. Tetapi hidup memang memiliki ketidakpastian yang amat tinggi. Boleh saja sesuatu seperti 99% persen sesuai yang kita rencanakan dan tentu saja kita harapkan, tetapi 1% saja cukup membuatnya sebagai persentase kemungkinan yang membuyarkan segala sesuatu 180 derajat. Saya memiliki minat yang tinggi pada kehidupan dan kegiatan petualangan alam bebas. Biasanya sebelum menjalankan kegiatan tersebut saya akan selalu membuat rancangan operasional atau rundown (kata-kata yang biasa dipakai untuk pertunjukan-pertunjukan). Saya akan secara detil merancang tanggal, hari, jam, dan lokasi serta kegiatan yang akan dilakukan. Contohnya : pada tanggal 27 Januari 2006 pada pukul 12.00 saya akan makan siang di shelter Cisentor selama 45 menit, setelah itu pada pukul 12.45 saya akan melakukan perjalanan kembali menuju pos Rawa Embik yang jarak tempunya kurang lebih 1 jam, dan seterusnya. Tetapi pada kenyataannya bisa saja melenceng (biasanya melenceng tapi kadang tidak melenceng terlalu jauh) terlalu jauh. Misalnya : pada tanggal 26 Januai 2006 pukul 08.00 di operasonal tertulis "berjalan menuju Pos Sikasur dari camp 2", tetapi pada kenyataannya ratusan tawon menyerang kami yang menyebabkan beberapa anggota tim mengalami luka ringan dan harus beristirahat cukup lama.
Contoh di atas hanyalah sebagian kecil contoh dari kehidupan yang penuh ketidakpastian bila dikaitkan dengan kehidupan beralam bebas saya. Pada kehidupan selain alam bebas tentu saja banyak contohnya. Kadang saya sempat kesal dan berfikir kembali, "Kenapa bisa gagal atau melenceng dari perencanaan saya ? Apa perencanaannya kurang matang atau ada hal lain yang menyebabkan ini menjadi tidak berkaitan atau tidak berhubungan?" Saya termasuk orang yang mudah kesal dan kecewa bila apa saya rencanakan baik-baik itu gagal atau tidak sesuai yang saya harapkan. Belajar dari ribuan atau bahkan jutaan planning gagal membuat saya berfikir kembali bahwa mungkin saja itu tidak sepatutnya diterima oleh saya. Kadang yang diterima adalah sebaliknya. Berharap baik tapi hasilnya buruk, berharap senang hasilnya sedih, berharap dapat tapi nyatanya tidak, berharap bahagia tapi nyatanya menderita, berharap banyak tapi nyatanya sediki atau tidak sama sekali, dan lain-lain. Ada sebuah "suara hati" yang kadang menyemangati "belum saatnya" atau "coba lagi" atau "dalam proses" atau "coba dengan cara yang lain" atau "bukan buat gue" atau "cari yang lain" dan atau-atau yang lain.
Kita sudah direncanakan. Tapi saya tetap percaya bahwa saya adalah nahkoda dalam diri saya sendiri walau memang ada suatu "kekuatan" besar yang tidak kita bisa kalahkan. Saya selalu mencoba bersyukur dengan semua yang terjadi dalam hari ini setiap saya berdoa di tiap malam hari. "Terima kasih karena saya bisa memukul orang dan meminta maaf kepadanya hari ini, terima kasih karena hari ini sudah nyasar dan ga ketemu tujuan yang diharapkan, terima kasih karena sudah salah karena ga teliti menuliskan faktur penjualan, terima kasih karena mendapatkan kamar gratis untuk tidur walau kecil dan pengap, terima kasih atas banyak kisah penolakan cinta dalam hidup saya dan terima kasih serta syukur lainnya."
Saya sudah melakukan ini cukup lama untuk melawan hawa negatif dalam diri saya yang akan terus muncul bila sesuatu yang saya inginkan tidak terpenuhi. Malamnya saya akan selalu berterima kasih atas apa yang terjadi, yang menimpa diri saya dan berdampak pada diri saya. Mudah-mudahan saja untuk memacu di kehidupan esok harinya agar menjadi lebih baik.
"Terima kasih karena tidak sengaja membuka notes saya yang mengingatkan saya kembali bahwa ada topik ini yang rasanya harus saya tuang dalam tulisan seperti ini."
Terinspirasi dari seorang teman yang sedang menghabisakan masa tahanan yang tinggal beberapa bulan lagi habis. (Sabaraha bulan deui, nyak ? Gancang pisan, Guuu ???).
Buat seorang sahabat yang rasanya susah terus kalo di rumah...(tenang dan sabar yah, pasti ada bahagianya kok suatu saat nanti, gue percaya tiap orang bisa berupah cepat atau lambat.)
Buat sayah yang rasanya kok selalu apes terus.....(Santai lah, bray...mungkin aja butuh perjuangan lebih atau bahkan bukan dia sama sekali...beres kan ? Anggep aja pengalaman dalam hidup....beressss...!)
Contoh di atas hanyalah sebagian kecil contoh dari kehidupan yang penuh ketidakpastian bila dikaitkan dengan kehidupan beralam bebas saya. Pada kehidupan selain alam bebas tentu saja banyak contohnya. Kadang saya sempat kesal dan berfikir kembali, "Kenapa bisa gagal atau melenceng dari perencanaan saya ? Apa perencanaannya kurang matang atau ada hal lain yang menyebabkan ini menjadi tidak berkaitan atau tidak berhubungan?" Saya termasuk orang yang mudah kesal dan kecewa bila apa saya rencanakan baik-baik itu gagal atau tidak sesuai yang saya harapkan. Belajar dari ribuan atau bahkan jutaan planning gagal membuat saya berfikir kembali bahwa mungkin saja itu tidak sepatutnya diterima oleh saya. Kadang yang diterima adalah sebaliknya. Berharap baik tapi hasilnya buruk, berharap senang hasilnya sedih, berharap dapat tapi nyatanya tidak, berharap bahagia tapi nyatanya menderita, berharap banyak tapi nyatanya sediki atau tidak sama sekali, dan lain-lain. Ada sebuah "suara hati" yang kadang menyemangati "belum saatnya" atau "coba lagi" atau "dalam proses" atau "coba dengan cara yang lain" atau "bukan buat gue" atau "cari yang lain" dan atau-atau yang lain.
Kita sudah direncanakan. Tapi saya tetap percaya bahwa saya adalah nahkoda dalam diri saya sendiri walau memang ada suatu "kekuatan" besar yang tidak kita bisa kalahkan. Saya selalu mencoba bersyukur dengan semua yang terjadi dalam hari ini setiap saya berdoa di tiap malam hari. "Terima kasih karena saya bisa memukul orang dan meminta maaf kepadanya hari ini, terima kasih karena hari ini sudah nyasar dan ga ketemu tujuan yang diharapkan, terima kasih karena sudah salah karena ga teliti menuliskan faktur penjualan, terima kasih karena mendapatkan kamar gratis untuk tidur walau kecil dan pengap, terima kasih atas banyak kisah penolakan cinta dalam hidup saya dan terima kasih serta syukur lainnya."
Saya sudah melakukan ini cukup lama untuk melawan hawa negatif dalam diri saya yang akan terus muncul bila sesuatu yang saya inginkan tidak terpenuhi. Malamnya saya akan selalu berterima kasih atas apa yang terjadi, yang menimpa diri saya dan berdampak pada diri saya. Mudah-mudahan saja untuk memacu di kehidupan esok harinya agar menjadi lebih baik.
"Terima kasih karena tidak sengaja membuka notes saya yang mengingatkan saya kembali bahwa ada topik ini yang rasanya harus saya tuang dalam tulisan seperti ini."
Terinspirasi dari seorang teman yang sedang menghabisakan masa tahanan yang tinggal beberapa bulan lagi habis. (Sabaraha bulan deui, nyak ? Gancang pisan, Guuu ???).
Buat seorang sahabat yang rasanya susah terus kalo di rumah...(tenang dan sabar yah, pasti ada bahagianya kok suatu saat nanti, gue percaya tiap orang bisa berupah cepat atau lambat.)
Buat sayah yang rasanya kok selalu apes terus.....(Santai lah, bray...mungkin aja butuh perjuangan lebih atau bahkan bukan dia sama sekali...beres kan ? Anggep aja pengalaman dalam hidup....beressss...!)
No comments:
Post a Comment