
Sekalimat yang tertulis pada notes kecil sengaja disembunyikan Vita di sudut ruangan. Entah mengapa Vita melakukan itu. Aria mencoba untuk memutar otak atas kejadian yang sudah membuatnya bingung tujuh keliling baru saja. “Tapi ini bukan saatnya untuk bingung…”, guam Aria. Dan segera bergegaslah ia menyambar jaket kumalnya lalu berlari kencang menuju garasi tempat biasa ia memarkirkan TS kesayangannya.
Ketika Aria sudah di atas motor dengan kecepatan 75 km/jam di sebuah jalan protokol yang cukup padat, kembali ia menerawang jauh di dalam lamunannya. "Kenapa Vita menyembunyikan ini tanpa memberikan clue sedikitpun ?” Aria menemukan notes tersebut tadi pagi ketika ia hendak bersiap-siap menuju bengkel galeri seni untuk bertemu dengan seorang teman. Notes mungil yang diselipkan pada balik lukisan surrealis, sebuah karya dari Vita yang dihadiahkan pada dirinya tidak sengaja ia temukan ketika ia melewati lukisan tersebut dan memandangnya untuk beberapa saat karena rasa kangen bertemu dengan gadis itu.
“MOTOR GOBLOK !” Sebuah teriakan dari pria separuh baya menyadarkan Aria dari lamunannya. Ia hampir saja menabrak sebuah Grand Livina yang sedang berbelok ke arah kiri. Tanpa peduli Aria menambah kecepatan motornya sambil sesekali melewati undakan-undakan trotoar untuk mempersingkat waktu tempuh agar segera tiba di rumah sakit tempat Vita bertugas. Vita adalah seorang perawat dan sekaligus memiliki minat melukis dari hasil otodidaknya. Vita sangat telaten dalam dua hal ini, merawat pasien dan memenuhi hasratnya untuk melukis.
“MOTOR GOBLOK !” Sebuah teriakan dari pria separuh baya menyadarkan Aria dari lamunannya. Ia hampir saja menabrak sebuah Grand Livina yang sedang berbelok ke arah kiri. Tanpa peduli Aria menambah kecepatan motornya sambil sesekali melewati undakan-undakan trotoar untuk mempersingkat waktu tempuh agar segera tiba di rumah sakit tempat Vita bertugas. Vita adalah seorang perawat dan sekaligus memiliki minat melukis dari hasil otodidaknya. Vita sangat telaten dalam dua hal ini, merawat pasien dan memenuhi hasratnya untuk melukis.
Aria dan Vita memang bukan sepasang kekasih. Tetapi Aria mencintai Vita lebih dari apapun di dunia ini. Kembali Aria tenggelam dalam lamunannya. Teringat kembali atas apa yang terjadi 2 minggu lalu di rumah Aria ketika masalah itu muncul. Kembali Aria menuntut sesuatu yang seolah-olah menjadi haknya. Aria menuntut Vita untuk berkata “iya” atau ”tidak” saat itu juga. Sesaat setelah Aria mengeluarkan tuntutannya, raut wajah Vita tiba-tiba berubah dan memutuskan untuk meninggalkan rumah itu. Dan sekali lagi karena ego laki-laki, Aria memutuskan untuk tidak mengejar Vita. “Ego sialan…!!!” maki Aria dalam hati. “Harusnya gue ga boleh menuntut dia. Harusnya gue harus bisa lebih mengerti dia, memberikan keleluasaan dan waktu buat dia, bukan menuntut seperti itu…ego sialan...ego sialan…ego sialan !!!” sesal Aria.
Akhirnya Aria tiba di sebuah halaman luas tepat di depan sebuah rumah sakit yang dikelola oleh salah satu instansi pemerintah. Aria langsung melesatkan TSnya ke sudut halaman tempat biasa motor-motor diparkir. Tanpa memperdulikan birokrasi perparkiran yang menurutnya cukup berbelit-belit, Aria berlari menuju gedung utama rumah sakit. “WOI, MASSSS BAYAR DULU…!” sebuah teriakan petugas parkir yang hendak memperlambat aksinya. Sambil berlari Aria membalas berteriak, “AMBIL AJA MOTORNYA BUAT GANTI ONGKOS PARKIR !!!!” Aria berlari dengan sangat cepat seperti pesakitan diare yang memiliki masalah “ujung tanduk” dan tidak bisa ditunda-tunda lagi, harus segera dikeluarkan. Tidak terhitung caci maki dari pasien, suster, dan pengunjung rumah sakit yang merasa ditabrak lari oleh Aria. Tetapi Aria sudah tidak perduli lagi, saat ini dalam pikirannya hanya satu, Vita!
Aria berlari tanpa memperdulikan berapa ember keringatnya sudah habis bercucuran. Belum lagi bau badan, bau mulut, rambut acak-acakan, dan pakaian seadanya gara-gara langsung melesat belum mandi. Disertai sengalan nafas yang kembang kempis, Aria terus berlari menuju ruang piket suster di lantai 3. Setelah tiba di depan pintu coklat bertuliskan “Ruang Piket”, Aria segera membuka pintu tanpa ba-bi-bu dan berteriak, “Vita, gue minta maaf. Gue say……” Sedetik…dua detik…tidak ada suara. Sampai akhirnya seorang suster tua berkata, “Say… apa ? Sayap apa sayur ?” Kontan saja seisi ruangan tertawa dengan sekeras-kerasnya. Pada akhirnya Aria baru mengetahui ternyata sedang diadakan brefing rutin harian di dalam ruangan tersebut. “Errrrr…maaf, Vita ada ?” tanya Aria sambil menggaruk-garuk kepala dan menunduk muka merah padam. “Vita ada di ruangan 3508 sedang mengecek pasien.” seorang suter muda memberitahukan sambil tersenyum lucu. “Saya minta maaf atas gangguan ini, maklum jiwa muda.” balas Aria sambil menunduk maaf yang disertai cekikikan para suster-suster.
Aria kembali berlari lagi dengan disertai peluh keringat dan nafas yang memburu menuju ruang 3508 di lantai 5. Dan dengan percaya diri super wahid Aria membuka pintu putih dengan tulisan “3508” dan kembali berteriak ,“Vita, maafin gue, gue salah. Gue say…” Belum lagi Aria memenyelesaikan kalimatnya, seorang anak kecil berteriak dengan riang,” SAYAP-SAYAP PATAH !” Dan kali ini juga tanpa ba-bi-bu seisi ruangan tertawa lepas kecuali Vita yang wajah manisnya merah padam tertunduk malu. Di dalam ruangan itu ada seorang anak kecil yang sedang duduk di ranjang pasien ditemani sepasang suami istri. Dengan wajah merah padam dan sekali lagi tetap manis, Vita berkata, “Ar, boleh tunggu di luar dulu? Aku sedang memeriksa suhu badan Patrick.” Dengan kikuk Aria keluar dan menutup pintunya dengan amat pelan takut mengeluarkan suara sedikitpun. Sambil menunggu di luar, dada Aria berdegub dengan sangat kencang. Baru kali ini dia segrogi ini. Aria takut apa yang hendak disampaikan ditolak mentah-mentah oleh Vita. Aria menyadari benar dengan egonya ia ada pada posisi yang amat sangat salah. Menit-menit berlalu, Vita juga tidak keluar dari ruangan tersebut. Keringat akibat lari jarak jauh berganti dengan keringat dingin.
“Jgrek” bunyi gagang pintu bergerak dan daun pintu terbuka dari dalam. Seorang gadis manis berpakaian perawat putih bersih dengan rambut panjang yang diikat, keluar dengan anggunnya. Kali ini Aria terpesona dibuatnya, seluruh panca indra Aria terfokus menjadi satu titik dan pikirannya terpusat pada makhluk cantik berjarak 3 meter di depannya. “Ar, kamu ngapain bengong begitu sih ?” suara merdu membuyarkan semua yang ada di otaknya seolah menariknya kembali ke kehidupan nyata. “Maaf Taa, gara-gara aku muka manismu jadi tampak lebih manis tadi.” gombal Aria. “Huh, gombal aja yang kamu punya !” celoteh Vita. “Jadi kamu sudah menemukan suratku ?” tanya Vita. “Iya Ta, tapi sebelum kamu menyampaikan apa yang ingin kamu sampaikan, ijinkan aku menyampaikannya lebih dulu.” tandas Aria. “Vita, aku minta maaf atas sikapku selama ini, aku sunggung-sungguh minta maaf. Karena ego dan sikapku ini jadi membuat kamu susah. Gak seharusnya aku menuntut kamu seperti itu. Vita, aku sayang kamu, aku harus lebih mengerti posisimu saat ini. Oleh karena itu aku memutuskan untuk lebih bersabar dan menerima apapun keputusan kamu. Aku berjanji tidak akan egois lagi, aku tidak akan menuntut kamu. Aku akan tetap menunggu kamu.” jelas Aria. “Ar,…..” Vita berkata dengan bibir gemetar. Tetapi Aria kembali berkata, “Vita sayang, kamu tidak usah menjelaskan apapun, aku mengerti yang ingin kamu katakan. Kamu berhak memperlakukan apapun pada diriku bahkan menjauhi aku dan membenci diriku. Kamu berhak untuk bebas dan memutuskan untuk bersama dengan siapa pun juga. Aku berjanji untuk lebih ngertiin kamu. Aku sudah memutuskan untuk tetap menunggu kamu walaupun apa yang akan terjadi. Jadi kamu ga usah pusing mikirin hal-hal lainnya, lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan dan aku akan berusaha untuk mengerti. Aku berjanji untuk menerima apapun itu dan terus mendukung kamu.”
Vita tidak dapat mengeluarkan suara satu patah kata pun dari bibir mungilnya. Tak terasa tetesan pertama air mata jatuh ke pipinya. Aria langsung memeluk Vita dan berbisik,” Vita, I love you more than anything, even if I have to lose you. If you're happy, there will be my happiness too.”
~the end~
~the end~
No comments:
Post a Comment