StatCount

07 September 2007

Pindah dar Microsoft ke Google - gak takut !

Tulisan ini saya kopi paste dari situs SWA. Ceritanya mengenai kepindahaan seorang pegawai dari perusahaan yang satu ke perusahaan yang lainnya.

Tulisan ini menggugah saya, bahwa jangan takut untuk pindah ke perusahaan lain.
Proses belajar itu akan terus berlanjut. Demi menjawab semua ambisi anda, mungkin "pindah" adalah salah satu jawaban yang tepat.

Semoga berhasil, walau jawaban anda tetap dan akan terus berkembang di perusahaan lama.
Hanya anda yang tau jawabannya sendiri.

GBU,
CiloTRocKTech


...............
Salah satu contoh yang paling menonjol adalah hinggapnya Lee Kai-Fu, jenius teknologi speech recognition, di Google. Hijrah ke AS pada usia 12 tahun, lelaki kelahiran 1961 ini lulus sarjana muda ilmu komputer dengan predikat summa cum laude pada 1983 dari Columbia University dan menyabet gelar Ph.D., juga di bidang ilmu komputer, pada 1988 dari Carnegie Mellon University.

Setelah dua tahun jadi dosen di Carnegie Mellon, pada 1990 Lee muda bergabung dengan Apple Computer. Di perusahaan yang didirikan Steve Jobs ini, dia memimpin grup riset & pengembangan (R & D) yang mengembangkan PlainTalk, Apple Newton, dan beberapa versi QuickTime dan QuickTime VR. Setelah itu, 1996, Lee pindah ke Silicon Graphics untuk mengomandani Cosmo Software, divisi VRML Silicon Graphics. Pada 1998, sebagai orang Microsoft dia ditugaskan ke Cina untuk mendirikan MSR China (yang belakangan dikenal sebagai MSR Asia), Divisi Riset Microsoft di Beijing.

Pemahaman Lee yang dalam terhadap budaya leluhurnya — ayahnya, Li Tien-Min, adalah anggota DPRD dan ahli sejarah asal Sichuan yang mengungsi ke Taiwan ketika kaum komunis berkuasa di Cina — membuat lab R & D yang didirikannya jadi favorit talenta terbaik Negeri Tirai Bambu itu. Tenaga-tenaga hebat itulah yang memungkinkan MSR China pimpinan Lee mampu memberikan kontribusi teknologi yang signifikan ke perusahaan induk, termasuk algoritma kunci untuk MSN, mesin pencari terbaru Microsoft dan grafis yang lebih realistis untuk Xbox.

Atas prestasinya ini, pada Agustus 2000 Lee dipromosikan jadi VP dan ditarik ke markas perusahaan di Redmond, kota satelit di pinggiran Seattle, Washington. Lee happy?

Ternyata, tidak. Hati Lee telah tertambat pada potensi kawula muda Cina yang luar biasa. Selama di Cina, dia telah memulai tekadnya unuk mencetak ribuan tenaga ahli di bidang teknologi komputasi — meneruskan idealisme ayahnya yang belum kesampaian, yaitu memajukan negeri leluhur. Maka, walau telah mapan di salah satu perusahaan terbesar dan paling bergengsi di dunia, dia kerap ke Beijing untuk mengajar dan membantu para mahasiswa belajar cara untuk maju di tengah persaingan mencekik dunia modern.

Untuk itu, pada 2004 Lee bahkan menerbitkan buku “how-to” dalam bahasa Mandarin, Be Your Personal Best, yang dalam tempo enam bulan terjual 400 ribu kopi, dan meluncurkan situs kaifulee.com yang menarik puluhan ribu kawula muda untuk minta saran tentang pekerjaan dan kuliah. Kedua aktivitas ekstra ini mengibarkan nama kelahiran 3 Desember 1961 ini jadi selebriti di kalangan kawula muda di kampus-kampus seantero Cina.

Menjelang penghujung 2004, Lee mulai merasa terganggu dengan kemajuan Microsoft yang lambat di Cina. Dia melihat, banyak hal yang mesti diperbaiki. Sebab itu, memasuki 2005, dalam sebuah rapat dengan CEO Steve Ballmer dan para petinggi Microsoft lainnya, dia mengusulkan agar aktivitas R & D di Cina yang tersebar disatukan. Usulan ini ditolak. Lee kecewa.

“Saya menyimpulkan, kecil kemungkinan dilakukan perubahan berarti di MSR China,” tutur Lee. “Saya juga menyimpulkan bahwa sudah saatnya bagi saya meninggalkan Microsoft.”

Lee tak mengungkapkan kekecewaannya ini kepada para bos Microsoft. Akan tetapi, pada 7 Mei 2005, dia mengirim e-mail kepada Eric Schmidt, CEO Google, yang telah lama dikenalnya. “Hai Eric,” tulisnya. “Sudah 10 tahun lebih kita nggak ketemu, moga Anda masih ingat saya (kita pernah mendiskusikan kolaborasi Sun-Apple untuk Java+QuickTime). Selamat atas sukses Anda di Google.”

Lalu, Lee melanjutkan, “Saya dengar Google sedang memulai upaya di Cina. Saya ingin kasih tahu bahwa kalau Google punya ambisi besar di Cina, saya akan tertarik untuk berdiskusi dengan Anda.”

Para petinggi Google langsung heboh. Lee adalah bintang terang di Silicon Valley dan lingkungan computing. Yang lebih penting, reputasi dan guanxie Lee di Cina tak ada duanya. Maka, VP Engineering Alan Eustace cepat memberikan respons: “We would love to talk to you. Silakan telepon saya secepat mungkin, 24 jam sehari, di ponsel saya.”

Pada 27 Mei, Lee mengunjungi Googleplex, markas Google Inc. di Mountain View, Kalifornia. Khawatir ada yang mengenali Lee dan membocorkan info ke luar, para petinggi kampiun industri mesin pencari itu mengatur pertemuan di gedung yang terpencil di Googleplex dan menyelundupkan lelaki itu melalui pintu masuk pribadi yang tak dilengkapi resepsionis. Di situ, dilakukan 11 wawancara, termasuk 45 menit dengan CEO Schmidt dan 30 menit dengan duo pendiri Sergey Brin dan Larry Page.

Selama beberapa minggu sesudahnya, negosiasi dilakukan, yang berpuncak pada tawaran formal untuk bergabung. Pada satu titik, Jonathan Rosenberg, Direktur Pengembangan Bisnis Google, mengirim e-mail kepada para koleganya: “I all but insist that we pull out all the stops and close him like wolves. He's an all star and will contribute in ways that go substantially beyond China.”

Pada 5 Juli 2005, Lee menemui bosnya, Eric Rudder, dan memberitahukan Kepala Divisi Servers and Tools ini bahwa dia tak berniat kembali ke Microsoft setelah cuti panjang, sabbatical, yang dimulai beberapa minggu sebelumnya. Lee mengemukakan beberapa kemungkinan yang akan dia jalani, salah satunya adalah bergabung dengan Google.

Microsoft segera menjalankan upaya untuk menahan Lee. Selama dua minggu berikutnya, sejumlah eksekutif senior mencoba meyakinkan Lee untuk tetap di Microsoft. Pada 8 Juli, dia bertemu langsung dengan Ballmer untuk mendiskusikan apa yang harus dilakukan Microsoft buat meyakinkan Lee untuk tak keluar. Di ujungnya, sang CEO juga kasih peringatan: “Kalau Anda tetap hengkang, kami akan melakukan sesuatu, dan kalau kami melakukan itu, please don’t take it personally. Kami menyukai Anda. Kontribusi Anda ke Microsoft sangat besar. Bukan Anda yang kami incar, tapi Google.”

Seminggu kemudian, 15 Juli, Ballmer memberikan rincian tawaran kerja baru. Lee juga bertemu Bill Gates yang juga menyatakan keberatannya. “Kai-Fu, Steve pasti akan menuntut Anda dan Google,” sang pendiri Microsoft memberi peringatan. “Dia menunggu sesuatu seperti ini, seseorang di tingkat VP hengkang ke Google. Kami harus melakukan ini buat menghentikan Google.”

Lee mempertimbangkan apa yang dikatakan Gates dan Ballmer sepanjang akhir minggu — tetapi lalu cepat ambil keputusan. Pada hari Minggu, dia datang ke kampus Microsoft dan mengambil barang-barangnya dari kantor. “Saya cuma mengambil barang-barang pribadi, termasuk dua lukisan, foto-foto, buku, makanan, obat, teh, plakat, dan beberapa barang kecil.” tuturnya. “Saya tak mengakses server Microsoft. Saya tak mengambil dan tak memegang info rahasia, proprietary, atau info tentang rahasia dagang Microsoft, atau dalam hal ini info nonpublik apa pun tentang Microsoft.”

Keesokan harinya, hari terakhir bekerja di Microsoft, pada pukul 4 sore Lee menemui Rudder lagi untuk menyerahkan surat pengunduran diri. Sang bos langsung menggumam, “Good luck at Google.”

“Lalu, bagaimana dengan tuntutan hukum?” tanya Lee.

“Anda pasti tahu, paling banter Anda tidak boleh kerja beberapa bulan,” jawab Rudder. “Saya tahu, Anda akan ke sana cepat atau lambat.”

Begitu selesai dengan Rudder, Lee menerima salinan tuntutan hukum dari bagian legal Microsoft. Esok paginya, dia sudah di markas Google, menandatangani perjanjian kerja dan mendaftarkan diri jadi penduduk Kalifornia.

Lee menerima signing bonus US$ 2,5 juta dan janji pembayaran US$ 1,5 juta lagi setelah setahun. Selain itu, dia juga menerima gaji US$ 250 ribu/tahun, ditambah bonus, biaya hidup, dan opsi saham yang membuat dia menerima paket pembayaran total US$ 10 juta lebih — sebuah perlakuan istimewa yang belum pernah dilakukan Brin dan Page. Untuk itu, duo pendiri ini meminta Lee mendirikan pusat R & D seperti yang pernah dilakukan buat Gates.

Pada akhir Juli, Lee memasang sebuah artikel di situs Web-nya buat menerangkan kepada para mahasiswanya mengapa dia meninggalkan Microsoft. “Saya Perlu Menuruti Hati Saya, begitu judul artikel tersebut.

“Microsoft itu sebuah perusahaan yang luar biasa, dan banyak sekali yang bisa kita pelajari darinya,” tulis Lee. “Tapi Google adalah perusahaan yang membuat saya merasakan shock. Alasan mengapa Google bikin saya shock adalah passion untuk menciptakan generasi baru teknologi. I found treasures in Google everywhere. Teknologi dan produk mereka jauh melebihi ketimbang sekadar mesin pencari.”

Faktor lain yang menjadi kejutan, masih menurut Lee, adalah hasrat besar untuk berinovasi, kejujuran, bekerja buat orang biasa, emotional charm, kebebasan, transparansi. Pendek kata, “Budaya Google dan kawula muda Cina yang luar biasa akan membentuk Google China yang hebat!”

Lee menyudahi artikelnya dengan catatan bahwa dia ingin melakukan sesuatu yang besar dalam hidupnya — membantu para kawula muda — dan dia memutuskan pergi ke tempat yang pengaruhnya paling besar. Dia memilih pergi ke Google.

Untuk seorang eksekutif bintang, walau yang dilakukan adalah pilihan yang menyenangkan hati, fulus dalam jumlah besar tetap akan mengalir masuk sehingga bikin tambah senang. Cara peminangannya pun elegan, dilakukan di tempat tertutup dan tak jarang menggunakan jasa pihak ketiga. Bukan di jalan-jalan seperti yang dialami orang-orang dari perusahaan peranti lunak yang terpuruk, di suatu siang, di Philadelphia. (SWA 08/XXIII/12-25 APRIL 2007)

No comments: